BETANEWS.ID, KUDUS – Atap sebagian rumah runtuh, jendela dan pintu mulai rapuh, dan lantai tanah jadi pemandangan sehari-sehari keluarga Kasmadi (52) dan Umiyati (35) beserta dua anaknya. Warga Desa Gondangmanis RT 4 RW 2, Kecamatan bae, Kabupaten Kudus tersebut sudah meninggali rumah yang rusak parah itu sejak 1999 saat awal menikah.
Menurut pengakuan Umiyati, sejak ditempati rumah itu memang sudah tak layak huni. Namun, belum separah yang terlihat seperti sekarang. Dulu rumah itu, dilengkapi dengan dua ruang tidur. Namun, karena kerangka bangunan yang sudah rapuh, di bulan Ramadan tahun lalu, salah satu atap kamar tidur tiba-tiba roboh. Kamar itu rusak berat dan tidak dapat digunakan kembali.

“Ya sekarang tidurnya di ruang tamu. Kalau ada tamu ya duduk seadanya,” beber Umiyati saat ditemui di rumahnya, Kamis (15/4/2021).
Baca juga: Tiga Rumah Warga Rusak, Pemilik Sebut Akibat Pembangunan The Sato Hotel Kudus
Dua ranjang yang berada di sisi kanan dan kiri ruang utama itu juga tampak ringkih. Mereka menata perabotan mengikuti bangunan rumah yang masih bisa ditempati. Di beberapa bagian rumah, atapnya terlihat rusak berat. Genteng porak poranda dan ada beberapa ruangan yang tak memiliki atap utuh.
“Kalau hujan air langsung masuk ke rumah. Cuma bisa ditampung pakai ember. Tapi biasanya langsung surut, nggak sampai masuk ke ruang tamu,” ungkapnya.
Niat untuk merenovasi rumah sudah ada sejak lama. Namun, gaji suami yang bekerja sebagai kuli bangunan, tak sanggup untuk membiayai renovasi rumah mereka. Gaji sang suami hanya mampu digunakan Umiyati untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya dan makan sehari-hari.
Sekarang, Umiyati dan keluarga hanya mampu berharap kepada bantuan dari pemerintah kabupaten Kudus. Ia berharap, pemerintah bisa membantu merenovasi rumahnya, agar ia dan keluarganya bisa merasa tenang saat hujan datang dan tidak terbayang-bayang ketakutan rumah runtuh.
Baca juga: Anggota DPRD Kudus Bahu-membahu Perbaiki Rumah Tak Layak Huni di Prambatan Kidul
Berkoordinasi dengan ketua RT maupun RW sudah pernah ia lakukan untuk merenovasi rumahnya. Bagitupun ke pihak desa setempat. Namun, katanya, hanya sekali ia dan keluarganya mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah desa.
“Cuma sekali dapat bantuan beras dari pemerintah. Selain itu tidak pernah sama sekali. Pak RW dulu juga pernah foto rumah, katanya mau dimintakan bantuan, tapi ternyata tidak ada sampai sekarang,” tandas Umiyati.
Editor: Ahmad Muhlisin

