Meski Diguyur Hujan, Kirab Munjung Wong Tuwo di Desa Wates Tetap Khidmat

BETANEWS.ID, KUDUS – Warga Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus tetap antusias mengikuti kirab budaya “Munjung Wong Tuwo” meski hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (14/5/2026) sore. Tradisi turun-temurun itu menjadi bagian penting dalam rangkaian Sepekan Gelar Budaya 2026, Sedekah Bumi, dan peringatan Hari Jadi ke-171 Desa Wates.

Kirab dimulai dari Kantor Kepala Desa Wates menuju Taman Padhang Bulan. Puluhan warga berjalan beriringan sambil membawa tenong anyaman bambu berisi ingkung ayam dan berbagai jajanan tradisional atau senik. Para peserta juga mengenakan pakaian adat khas Kudus yang menambah nuansa sakral dan tradisional.

Ketua Panitia Sepekan Gelar Budaya, Mohammad Zuhri, mengatakan kegiatan tahun ini tetap mengusung konsep sedekah bumi dan pelestarian budaya desa seperti tahun-tahun sebelumnya.

-Advertisement-

“Tema kegiatan masih sama, yakni sedekah bumi dan gelar budaya dalam rangka HUT ke-171 Desa Wates,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh rangkaian acara sebenarnya telah dimulai sejak Ahad malam melalui ritual doa miwiti gawe sebagai simbol permohonan kelancaran kegiatan hingga penutupan pada Minggu (17/5/2026) mendatang.

Baca juga : Puluhan Perempuan di Kudus Antusias Ikut Safari KB Gratis pada Milad Aisyiyah ke-109

Berbagai kegiatan religius turut mewarnai agenda budaya tersebut, mulai dari manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, tahtiman Al-Qur’an bil ghoib, ziarah makam leluhur, istighosah, ngasah, hingga selawat.

Selain kegiatan keagamaan, panitia juga menghadirkan hiburan rakyat berupa pentas seni tradisional. Pada Kamis malam digelar pertunjukan barongan, disusul reog Ponorogo pada Jumat malam, live music akustik Sabtu malam, dan ditutup pentas teater pada Minggu malam.

Dalam prosesi Munjung Wong Tuwo, rombongan kirab menuju panggung utama di Taman Padhang Bulan. Tradisi tersebut menggambarkan penghormatan generasi muda kepada para sesepuh desa.

“Kadang Nom menyerahkan tumpeng dan senik kepada Kadang Sepuh. Kemudian sesepuh memberikan seikat padi sebagai simbol bekal kehidupan,” jelasnya.

Ia menyebut sekitar 30 kelompok masyarakat ikut ambil bagian dalam kirab budaya tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Wates, Abdullah Assofi, menuturkan tradisi Munjung Wong Tuwo merupakan bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus penghormatan kepada orang tua dan leluhur desa.

“Kita memberi kepada orang tua dan berharap doa terbaik untuk seluruh masyarakat Desa Wates,” katanya.

Menurutnya, penggunaan padi dalam prosesi memiliki makna khusus karena sebagian besar warga Desa Wates bekerja sebagai petani.

“Padi ini simbol bibit kehidupan yang baik untuk generasi penerus,” ujarnya.

Ia menambahkan, senik yang dibawa warga berisi aneka jajanan tradisional berbahan ketan sebagai simbol warisan budaya masyarakat desa yang terus dijaga hingga sekarang.

Tradisi Munjung Wong Tuwo sendiri telah berlangsung secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu. Jika dahulu prosesi digelar di area makam leluhur, kini kegiatan dipusatkan di Taman Padhang Bulan agar lebih mudah disaksikan masyarakat secara luas.

“Kami ingin tradisi ini bisa dilihat dan dikenal lebih luas, tidak hanya oleh warga Desa Wates, tetapi juga masyarakat luar desa,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER