Sejarah Bertani Sedulur Sikep
Sejarahwan Kudus Edy Supratno pernah menjabarkan tentang pekerjaan utama pertanian warga Sikep. Dia menjelaskan, sebelum Indonesia dijajah, terdapat kerajaan sebagai penguasa. Menurutnya, dalam sistem kerajaan saat itu, kepemilikan tanah hanya milik raja, dan rakyat harus menyetor upeti kepada raja.
“Namun ada dibeberapa daerah tertentu tidak dikenai pajak. Namanya daerah Perdikan,” tuturnya.
Edy melanjutkan, kerajaan mempunyai pegawai seperti pemerintahan sekarang. Mereka tidak digaji, namun diberi kewenangan untuk mengolah tanah. Mereka tidak mengelola tanah tersebut, namun disewakan kepada penduduk desa. Para penyewa dan pengelola tanah itu disebut Sikep. “Jadi dalam sejarahnya, sikep memang petani,” jelasnya.
Setelah itu, kata Edy, munculah penjajah di Indonesia. Sistem politik berubah, termasuk status kepemilikan tanah. Orang Sikep jelas terusik hal itu, apalagi sejak berlakunya era tanam paksa dan harus membayar pajak kepada penjajah. “Mereka (Sikep) menolak membayar pajak. Tokoh Sikep saat itu Samin Surosentiko,” tuturnya.
Samin Surosentiko, jelas Edy, saat itu dikekang Belanda. Namun pengikutnya tak berkurang justru semakin bertambah karena senasip dan seperjuangan sebagai petani. Akhirnya, gerakan yang dimotori Samin Surosentiko meluas dari Blora menyebar ke Pati dan Kudus. Belanda kemudian membuang Samin Surosentiko ke Sumatra dan meninggal di sana.
“Banyaknya pengikut Samin karena secara mereka merasa senasib sebagai pengolah lahan di desa-desa. Nah, Pati dan Undaan (Kudus) adalah daerah pertanian mereka,” jelasnya.
Tim Liputan: Ahmad Rosyidi, Rabu Sipan, Kaerul Umam (Reporter, Videografer). Suwoko (Editor Berita). Andi Sugiarto (Editor Video). Kholistiono, Ahmad Muhlisin, Lisa Mayna, Suwoko (Translator).






