Bertani Secara Organik

Gunritno, tokoh Sedulur Sikep Sukolilo, Pati. Foto: Rabu Sipan

Dalam menjalankan pertaniannya, Gunretno mengaku telah sejak lama menggunakan sistem pertanian organik. Sejak lama, dirinya tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Namun, hasil yang didapat tidak kalah dengan petani lain yang tidak menggunakan pertanian organik.

“Sudah sejak lama saya tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Tapi bisa dilihat, hasilnya tidak kalah dengan sawah-sawah di samping yang tidak organik. Pertanian organik itu biaya produksinya kecil, tapi hasilnya lebih banyak,” tuturnya.

Meski biaya lebih rendah dan hasilnya lebih melimpah, namun kata Gunretno, sistem pertanian organik tidak banyak petani lain yang tertarik melakukannya. Banyka yang khawatir hasilnya tidak bagus, padahal sebaliknya.

“Ini yan masih menjadi PR bagi saya, kenapa sedulur-sedulur lain tidak mau menggunakan sistem pertanian organik. Kalau ada yang mau belajar, saya sangat terbuka,” tuturnya.

Selain tak menggunakan pupuk kimia dan pestisida, Gunretno juga sudah sejak lama menggunakan sistem tanam legowo, artinya mengatur jarak tanam yang renggang. Hal itu bisa memangkas biaya penyediaan bibit, meski begitu hasilnya tetap lebih banyak.

- advertisement -

“Mungkin sistem tanam lewogo jadi tren sekarang. Tapi itu sudah saya lakukan, mungkin sejak 10-20 tahun silam. Bibit padi yang ditanam pun tidak banyak tiap lubangnya. Sehingga bibit yang disediakan lebih sedikit,” jelasnya.

Pekerjaan Sampingan

Lomo, sedang memberi makan sapi miliknya. Foto: Rabu Sipan

Meski pekerjaan utama bertani, tak jarang juga yang memiliki ternak. Lomo, warga Sukolilo yang lain misalnya, ia memiliki sejumlah sapi dan kambing. Dari kotoran sapi, Lomo dan saudaranya membuat biogas untuk mencukupi kebutuhan memasak sehari-hari.

“Biogas ini ukuran 8 kubik, untuk kebutuhan 3 rumah. Cukup lah untuk kebutuhan setiap hari. Jumlah sapinya ya minimal tiga,” ujarnya.

Sementara itu, Widiyanti, warga Sukolilo lainnya, seorang perajin batik kendeng. Di mengaku sudah memproduksi sejak tahun 2014. Membatik hanya dilakukan saat tidak ada aktivitas di sawah. Dalam mengerjakan satu lembar kain membutuhkan waktu lima hingga sepekan.

“Batik ini hanya untuk pekerjaan sampingan. Saya pasarkan secara online melalui media sosial. Saya menggunakan jenis kain paris dan primisima. Motifnya ada kendi, parang, lowo (kelelawar), pari (padi), iwak (ikan), sapi, dan motif batik Lek Patmi,” rincinya.

Setiap lembar kain ia jual dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Harga tersebut menyesuaikan jenis kain dan tingkat kesulitan motifnya.

“Harga kami patok segitu, kadang juga ada yang membeli dengan harga lebih dari itu. Tapi uangnya saya sumbangkan untuk kegiatan sosial. Pemasaran sendiri sudah sampai Jerman dan Hongkong,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini