BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak menggoreskan malam dengan canting pada kain di sebuah bangunan tepi Jalan Sudirmono No 178, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Tangan-tangan mereka begitu telaten memainkan canting mengikuti pola yang sudah tergambar di kain warna putih itu. Di sisi lain, seorang perempuan berhijab terlihat mengarahkan para pembatik itu. Ia adalah Ummu Asiyani (58) Pemilik Batik Alfa Shoofa.
Kecintaannya di dunia jahit sejak belia, membuat Ummu, sapaan akrabnya terus bersemangat mengembangkan batik yang bisa mengangkat nama Kudus di kancah nasional. Bahkan hingga kini, ia sudah menelurkan berbagai corak Kudus yang jadi unggulan produknya.

“Saya mengembangkan corak batik klasik dan menciptakan macam-macam corak, karena terinspirasi oleh Kudus,” katanya, Sabtu (10/10/2020).
Baca juga: Peringati Hari Batik, Pelajar di Kudus Belajar Membatik di Batik Alfa Shoofa
Corak batik tersebut di antaranya adalah Batik Tulis Kapal Tandas, Romo Kembang, Buket Lili, Bunga Wisteria, Buket Jangkar, Merak Katlia, Menara Tlitik, Taman Teratai Parijoto, Sekar Jagad Bergad, Batik Kretek Tembakau Cengkeh, dan Lung-lungan Parijoto.
Kini, batik buatan Ummu sudah sangat terkenal dan banyak peminatnya. Bahkan, Ummu banyak mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya mengembangkan batik Kudus. Bahkan, tempatnya itu juga menyediakan kelas membatik untuk pelajar yang ingin belajar di sana.
Namun, sebelum bergelimang kesuksesan itu, Ummu sebelumnya justru menggeluti usaha bordir yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun. Bordirnya juga cukup terkenal di Kudus dengan produk seperti taplak meja, kebaya, hijab, dan lain-lain.
Setelah sukses di dunia bordir yang sudah ia jalani sejak 1992, lama-lama Ummu merasa bordirnya sudah tidak lagi seperti dulu. Ia merasa, bordirnya hanya jalan di tempat dan tidak ada kemajuan. Lalu akhirnya ia mempunyai ketertarikan terhadap batik dan memulai untuk belajar membatik pada 2008.
Baca juga: Flora dan Fauna Khas Muria Jadi Motif Batik yang Keren di Batik Manjing Werni
“Saya belajar membatik di Semarang dan Bandung. Dalam pelatihan itu saya juga membawa beberapa karyawan untuk belajar bersama,” katanya.
Setelah mengalami kesulitan demi kesulitan, akhirnya Ummu mulai mengerti dan memahami batik dengan benar. Semangat Ummu untuk menunjukan bahwa Kudus juga mempunyai batik sangat luar biasa hingga akhirnya ada di posisi seperti sekarang ini.
“Saya ingin Kudus bisa lebih terkenal lagi dengan batiknya. Dan lebih banyak lagi pengrajin batik Kudus yang benar-benar batik. Bukan batik printing, dan lain sebagainya tapi batik tulis asli dan batik cap,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

