BETANEWS.ID, KUDUS – Kecintaan Mutrika pada pariwisata seperti memberinya banyak energi untuk bergerak. Setiap hari, selepas bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, wanita berkacamata itu sering menyempatkan diri berkunjung ke desa-desa yang sudah lama dia asuh. Bahkan tak jarang, wanita yang akrab disapa Tika itu pulang ke rumah hingga tengah malam.
Dedikasinya itulah yang membuat desa-desa di Kudus bisa menjual segala potensi daerah lewat Desa Wisata. Aksi yang dirintisnya sejak 2007 lalu itu kini sudah punya 15 desa wisata yang tersebar di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Kudus.
“Untuk mengkondisikan menjadi desa wisata, sekitar 3 tahun. Itu awal-awal merintis, ya bersama warga setempat dan tim kreatif. Kalau dihitung sampai saat ini hampir 7 tahun. Sejak saya di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” ungkap Tika saat ditemui di rumahnya, Sabtu (11/7/2020).
Desa pertama yang dirangkul Tika adalah Desa Colo. Setelah sukses di desa yang berada di lereng Pegunungan Muria itu, ia mulai menjelajah ke desa-desa lain, seperti Wonosoco, Jepang, Loram Kulon, Terban, Kaliwungu, hingga Rahtawu.
Baca juga: Desa Wisata di Kudus Bisa Ajukan Bantuan Alkes ke Pemkab
“Tujuh desa itu saya rangkul bersama dengan dan tim kreatif selama hampir 3 tahun hingga menjadi desa wisata sampai saat ini,” ungkap warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu.
Setelah desa wisata terbentuk, wanita yang saat ini menjabat Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Kudus itu kemudian membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis inilah yang kemudian bertugas mengelola desa wisata tersebut.
Menurutnya, keberhasilan dalam membuat desa wisata tak lepas dari dukungan penduduk setempat dalam menyusun berbagai persiapan yang ada. Dari mulai pendekatan hingga pendampingan, peran masyarakat memang penting.
“Mempelajari karakter masyarakat itu penting. Karena yang kami dukung adalah potensi desa, jadi harus tahu karakter masyarakat dari masing-masing desa. Lalu pendekatan dan pendampingan rutin, ya,” beber Tika.
Ia mengakui, upayanya memajukan desa itu butuh pengorbanan. Selain sering pulang tengah malam, dirinya juga sering menggunakan waktu liburnya untuk melakukan pendampingan. Hal tersebut ternyata sudah dimaklumi oleh anak dan suaminya sebagai salah satu resiko pekerjaan.
Baca juga: Air Terjun Kedung Gender, ‘Surga’ Tersembunyi di Kudus
“Memang kalau dikatakan berkorban waktu di luar jam kedinasan itu betul. Tapi saya rasa, itu adalah tugas pemerintah. Melayani dan memfasilitasi dengan cara mendampingi masyarakat. Biasanya karena sudah pada besar semua, dulu kalau pulang dari kuliah anak saya malah yang nyamperi saya. Misal saya sedang ada pendampingan ke Colo, ya dia dari luar kota langsung menghubungi buat janjian makan malam di mana gitu,” ungkap dia.
Hingga saat ini, Desa Wisata di Kudus sendiri sudah berkembang hingga 15 desa. Diakui Tika, sudah ada 40 desa yang mengajukan untuk menjadi desa wisata. Akan tetapi untuk saat ini, baru 15 desa tersebut yang sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi desa wisata.
“Pendampingan masih terus dilakukan, karena sejak mulai banyaknya desa wisata di Kudus, Pemerintah Kabupaten Kudus sudah mulai memberikan anggaran,” tukas Tika.
Editor: Ahmad Muhlisin


bagus liputannya … dapat memotivasi para penggerak & pelaku wisata di Kudus