BETANEWS.ID, KUDUS – Suara air dari pipa terdengar mengalir pelan di sekitar rumah Supriono (48) atau yang akrab disapa Badrun. Warga asli Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu nampak sedang memberikan makan ikan yang ada di bak depan rumahnya. Bak-bak tersebut merupakan tempat Badrun mencari nafkah selama hampir 23 tahun ini. Hal itu dikatakannya, sembari memperlihatkan ribuan ekor bibit lele yang ia budidaya.
Badrun mengatakan, jika selama 23 tahun itu, dia sudah merasakan pahit manisnya budidaya ikan lele. Dari yang awalnya memiliki indukan, hingga saat ini hanya menjual bibitnya saja. Dikatakan Badrun, jika kondisi pandemi saat ini cukup memengaruhi penjualan bibit lele. Para petani lele langganan, tidak terlalu banyak yang membeli. Meskipun, ada beberapa pembeli baru yang datang kepadanya mulai ada sejak pandemi ini.
Baca juga : Lebih Menjanjikan dan Tak Ada Matinya, Usman Sukses Budi Daya Lele
“Kalau perkembangan, bisa dikatakan lebih sepi. Karena para petani juga mikir pasar sepi. Mereka mau menjual ke mana? Akhirnya tidak selancar waktu sebelum ada pandemi ini. Cuma, kalau perorangan yang baru mau budidaya ada beberapa yang datang beli. Tapi kan partai kecil. Paling 100 an ekor. Kalau biasanya yang petani langganan bisa sampai ribuan,” papar Badrun, Selasa (23/6/2020).
Lelaki yang hingga saat ini sebagai Ketua Paguyuban Minasalam tersebut melanjutkan cerita. Dikatakannya, bahwa pembibitan lele pertama kali di Kota Kudus adalah di paguyubannya. Bahkan, pada tahun 2008-2009, mereka menjadi Percontohan Pembibitan Ikan se-Jawa Tengah oleh Dinas Perikanan. Melalui program tersebut, banyak perwakilan dari kota-kota lain yang datang untuk studi banding. Hingga akhirnya saat ini, pembibit di berbagai kota sudah mulai menjamur.
“Kalau bicara pembibitan, di sini yang pertama kali ditunjuk sebagai Balai Percontohan Pembibitan Ikan se-Jawa Tengah. Itu program Dinas Perikanan. Waktu itu datang perwakilan per kota sebanyak 5 orang untuk belajar dan studi banding. Terus mereka mencoba di kotanya masing-masing. Karena pernah juga kami menjuarai perlombaan budidaya ikan lele di Jawa Tengah pada tahun 2005 dulu,” ungkap dia.
Baca juga : Ikan Mas Koki Ankok Farm Mampu Tembus Pasar Mancanegara
Ia juga bercerita, bahwa dirinya dulu punya pelanggan hingga luar Jawa, di antaranya Kalimantan. Namun, seiring berkembangnya waktu, hampir setiap kota ada pembibit lele, sehingga pangsa pasarnya pun semakin berkurang. Akan tetapi, ia tetap memiliki petani langganan di beberapa kota selain Kudus. Di antaranya Pati, Demak, Jepara dan Purwodadi. Diakuinya, meskipun pasar semakin ketat, ia masih yakin, bisnis budidaya ikan masih akan terus berpeluang sebagai penghasilan yang menjanjikan.
“Kalau bisnis pangan seperti ini tidak akan pernah habis. Sejak 1997 itu saya sama sekali tidak beralih untuk bekerja atau mencoba bisnis lain. Karena manusiakan butuh makan. Nah, budidaya semacam ini, meskipun banyak saingan, pasti tetep laku. Berapapun penghasilannya. Apalagi kalau lele kan itungannya cepat ya untuk musim panennya, daripada jenis budidaya ikan lain,” tukas dia.
Editor : Kholistiono

