BETANEWS.ID, KUDUS – Sayup-sayup alunan musik mulai meramaikan sebuah rumah berpagar besi yang terletak di samping jalan masuk Perumahan Salam Residance, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus malam itu, Sabtu (14/3/2020). Sesekali, terlihat cahaya lampu warna-warni menerangi sebuah panggung berlatar belakang kain hitam yang ditempatkan di halaman rumah luas tersebut. Sebagai penghubung, tepat di depan panggung menuju teras rumah dipenuhi tikar sebagai tempat duduk para tamu.
Keriuhan tersebut sengaja digelar sebagai rangkaian tasyakuran hari ulang tahun ke-11 Keluarga Segitiga Teater (Keset). Hal tersebut terpampang jelas di banner persegi panjang yang dipajang di dekat gerbang masuk parkiran. Setelah melangkah masuk, tim betanews.id disambut oleh salah seorang pendiri sekaligus si empunya rumah, Ahmad Zakky Yamani (35). Dari lelaki berpeci hitam itu pula, sejarah berdirinya salah satu teater besar di Kudus ini pun diceritakan.

“Malam ini adalah acara tasyakuran hari ulang tahun kami, Keluarga Segitiga Teater yang ke-11 tahun. Sebenarnya Maret tanggal 9, cuma yang waktu tanggal 9 itu lebih intern. Syukuran pakai bubur sumsum. Kalau ini tumpengan ngajak teman-teman komunitas lain dan pecinta Teater Keset,” paparnya.
Zakky pun menceritakan sejarah berdirinya Keset, yang awalnya dibentuk oleh tiga orang. Yakni, Nurhadi (Cipo), M. Zaeni (Jessy), dan dirinya, Zakky (Paijan). Katanya, dulu ketika kuliah di Semarang, Zakky pernah menjabat menjadi Ketua Teater Beta UIN Walisongo Semarang, Jessy di Teater Gema UPGRIS, dan Cipo dari Komunitas Teater Puntung Kudus UMK. Kemudian setelah lulus dan ketemu, ketiganya ngobrol, bahwa mereka harus membuat wadah baru.
“Jadi, secara filosofi segitiga berasal dari tiga pendiri itu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu karena banyak yang ingin bergabung juga akhirnya secara filosofi berkembang menjadi fokus kepada sesama, alam, dan cinta kepada illahi. Sampai 11 tahun ini,” ungkapnya.
Lelaki dengan nama panggung Paijan ini, melanjutkan cerita bahwa pertemuan ketiganya memang jauh sebelum lulus, namun karena ikatan emosional yang kuat itu muncul karena ketiganya berasal dari kampung halaman yang sama, yakni Kudus. Utamanya ia dan Jessy yang sama-sama berkecimpung di perhelatan teater di Kota Lunpia. Di sana, mereka sering berkomunikasi saat Forum Teater Kampus Semarang (FOTKAS), awal mula dibentuk.
Baca juga : Setelah Sepuluh Tahun Merantau, Cipto Kembali ke Kudus Rintis Usaha di Bidang Seni
“Jadi seperti itu awal mulanya. Karena sering berkomunikasi. Waktu sudah lulus, kami mulai membentuk Keset dan produksi dari tahun ke tahun bukan tanpa kesulitan. Utamanya untuk SDM. Akhirnya kami mulai tawarkan atau mengajak teman-teman dekat di sini untuk berproses. Dari sana mulai banyak antusias. Bahkan sekarang beberapa anggota yang sudah tidak di Kudus, kalau ada acara pun tetap menyempatkan hadir meski jauh. Seperti Jepara, Pati,” tambah lelaki yang hingga kini masih betah menjabat menjadi ketua itu.
Selain pengakuan langsung dari sang empunya rumah, di luar suara motor mulai berdatangan bercampur lagu-lagu merdu yang mulai didendangkan di atas panggung. Lampu warna-warni serta angin yang malam yang dingin berhimpitan dengan pundak-pundak para tamu di pekarangan. Tempat duduk lesehan yang awalnya lengang, nampak semakin padat. Mereka duduk menghadap panggung, setelah saling bersalaman dengan senyum sumringah. Sedangkan beberapa orang masih berdiri dan mengobrol, sisanya lalu lalang mengambil sajian camilan dan minuman ringan di atas meja depan.
Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Setelah sambutan dari beberapa orang yang tak lain adalah pendiri dan sesepuh dari Teater Keset, acara doa dan potong tumpeng pun dilaksanakan. Semua takzim mendengarkan sambil memanjatkan doa. Panggung bebas yang diisi pelbagai penampilan dari para tamu pun disajikan seusai pembagian nasi tumpeng. Ternyata, malam itu tidak hanya orang Kudus atau komunitas dari Kudus saja yang hadir. Teman-teman dari Semarang salah satunya.
Baca juga : Ukiran Wajah Tiga Dimensi Warga Medini Kudus Tembus Pasar Mancanegara
“Saya sudah kenal baik dan kenal lama dengan Teater Keset. Jadi ya bisa dikatakan teman. Karena memang sudah kenal dari mereka masih mahasiswa. Minimal secara karya, kami juga mengikuti. Jauh-jauh dari Semarang karena utamanya ingin mengucapkan selamat kepada Teater Keset atas hari jadinya yang ke-11. Saya berharap semoga ke depan selalu jaya. Dan karya-karyanya ditunggu oleh masyarakat sekitar Kudus dan Jawa Tengah pada umumnya,” ucap Alfiyanto (52), salah seorang anggota teater dari Semarang yang malam itu hadir.
Tak hanya lelaki berkumis itu saja, beberapa tamu dari Kota Semarang yang mewakili komunitas teater juga nampak berkumpul asyik menyaksikan sajian harlah Teater Keset. Ialah para mahasiswa yang tergabung dalam Forum Teater Kampus Semarang (FOTKAS) yang datang berempat duduk di tangga musala, samping rumah Zakky. Spesialnya, salah satu di antara mereka merupakan Ketua FOTKAS periode tahun ini yang baru saja dilantik. Perempuan mungil berhijab pink itu kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya.
“Saya dari Teater Among Jiwo Semarang, tapi di sini sebagai wakil dari FOTKAS. Karena kebetulan baru saja diamanahi menjadi ketua tahun ini. Di sini bersama beberapa teman dari Semarang. Bisa sampai di sini sebenarnya, kemaren kami menonton pentas Teater Samar di UMK. Terus belum pulang, teman-teman sini bilang kalau ada acara harlah dari Teater Keset malam ini. Di situ saya tertarik. Terlebih saya penasaran, bagaimana Keset sebagai salah satu komunitas yang notabene memiliki anggota dari berbagai macam usia dan latar belakang. Saya penasaran bagaimana cara mengkoordinir anggota. Apalagi banyak juga yang sudah kerja. Menurut saya itu salah satu ilmu yang harus saya gali,” papar Presipitasi (22).
Editor : Kholistiono


Matur suwun mbak titis dkk….atas apresiasi terhadap kelompok kampung kami….mugi tansah jaya dan membahana