Beranda blog Halaman 98

Puluhan Pelajar Kayen Kampanyekan Pelestarian Kendeng Lewat Jelajah Alam

0
Puluhan pelajar di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati saat berkegiatan di Pegunungan Kendeng. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Puluhan pelajar di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, menunjukkan kepedulian mereka terhadap kelestarian Pegunungan Kendeng dengan cara yang tak biasa. Lewat rangkaian kegiatan bertajuk “Nandur Banyu Nali Lemah Lan Watu”, para siswa mengajak masyarakat untuk kembali menyadari pentingnya menjaga alam.

Kegiatan ini digagas oleh Siswa Pecinta Alam (Sispala Jaga Prana) SMA Negeri 1 Kayen, dengan dukungan Teater Sekar Langit SMA PGRI 2 Kayen serta sejumlah aktivis lingkungan. Selama dua hari, 28–29 Desember 2025, para peserta menyatu dengan alam di lereng Pegunungan Kendeng, tepatnya di Desa Brati, Kecamatan Kayen.

Baca Juga: Bupati Pati Minta Kades Tak Main Politik, Sudewo : ‘Soal Politik Nanti Ada Saatnya’

Tak sekadar berkegiatan di alam terbuka, para pelajar juga diajak menjelajah ke dalam perut bumi melalui susur Gua Gogor dan Gua Lowo. Di sana, mereka mendapatkan pemahaman langsung mengenai pentingnya kawasan karst bagi kehidupan.

“Kami tunjukkan bagaiamana Pegunungan Kendeng sebagai kawasan karst begitu penting. Karakter pegunungan yang bisa menyerap air. Ditunjukkan dengan adanya stalaktit dan stalagmit yang masih meneteskan air hingga saat ini,” ungkap Aziz Wisanggeni, guru SMA N 1 Kayen.

Untuk memperkaya wawasan, aktivis dari Kendeng Adventure turut dilibatkan memberikan edukasi lingkungan. Uniknya, diskusi digelar langsung di dalam Gua Lowo, menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Selain itu, para siswa juga mendapatkan materi pemanfaatan sampah menjadi karya seni tepat guna, serta peran media dalam kampanye pelestarian alam yang disampaikan oleh seorang jurnalis.

“Kami juga mengajak para siswa untuk berkemah di bukit Layang. Kami ajak mereka untuk merasakan langsung alam yang indah ini,” kata pria yang juga Pembimbing Ekstrakurikuler Siswa Pecinta Alam SMAN 1 Kayen tersebut.

Petualangan berlanjut dengan susur Sungai Bandung sejauh tiga kilometer. Para siswa menyusuri aliran sungai hingga ke Jembatan Lokomotif peninggalan Belanda dan Kedung Jurug, sekaligus mengamati sejumlah lokasi yang diduga menyimpan fosil binatang.

Sebagai puncak kegiatan, para peserta menanam seratus pohon mangga di kawasan Pegunungan Kendeng. Aksi ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Karena seperti diketahui hampir setiap tahun di kawasan Pati Selatan sering terjadi bencana banjir. Sementara pohon mangga sendiri memiliki karakter pohon keras dengan akar yang menjadikan air mudah meresap ke tanah,” ungkapnya.

Selain berfungsi ekologis, pohon mangga juga dinilai memiliki manfaat ganda, baik bagi manusia maupun sebagai sumber pangan bagi satwa di Pegunungan Kendeng.

“Kami berharap lewat kegiatan semacam ini bisa membuat para siswa menjadi lebih peduli untuk melestarikan lingkungan. Bagaimanapun generasi muda seperti mereka yang akan berperan besar di masa mendatang,” harap Aziz.

Sementara itu, salah satu peserta didik, Dinda mengatakan, dirinya baru perdana mengikuti kegiatan jelajah di Pegunungan Kendeng, pengalaman mendengarkan materi di dalam Gua Lowo dengan suhu dingin alami dan pemandangan stalaktit dan stalagmit yang menawan.

Baca Juga: Libatkan UMKM, SPPG Winong 1 Bagikan Menu MBG ke Warga 

“Kemudian juga  tanam pohon dan kemping di atas bukit menikmati hamparan Pegunungan Kendeng. Ini menjadi pengalaman tak terlupakan,” ucapnya.

Ia menambahkan, kebersamaan bersama kawan-kawannya merawat lingkungan, menjadi lecutan semangat untuk menjaga ekosistem Pegunungan Kendeng agar tetap lestari dan terhindar dari bencana banjir dan longsor.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bupati Kudus Lantik 87 Kepala Sekolah dan 14 Kepala Puskesmas

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melantik dan menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada puluhan kepala sekolah, serta belasan kepala puskesmas, di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (30/12/2025). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melantik dan menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada puluhan kepala sekolah, serta belasan kepala puskesmas, di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (30/12/2025). Hal tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kabupaten Kudus.

Sebagai informasi, sebanyak 87 kepala sekolah yang dilantik terdiri dari 77 kepala sekolah dasar dan 10 kepala SMP. Sementara 14 kepala puskesmas juga dilantik untuk mengisi kekosongan yang ada.

Baca Juga: Bakal Ada 500 Stand di Dandangan 2026 Kudus, Harga Mulai Rp1,5 Juta

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris mengatakan, beberapa jabatan kepala sekolan dan kepala puskesmas di Kabupaten Kudus mengalami kekosongan, sehingga hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melayani masyarakat. Terlebih, agar pelayanan terhadap masyarakat diharapkan bisa begerak secara cepat.

“Dengan perubahan ini supaya kinerja baik pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan yang ada di Kudus bisa berjalan dengan baik. Inovasi dan kinerja terhadap masyarakat bisa ditingkatkan sehingga tanpa ada komplain dari masyarakat,” bebernya, Selasa (30/12/2025).

Langkah itu, katanya, sebagai jawaban terkait banyaknya masyarakat saat ini yang lebih memilih sekolah swasta dibandingkan dengan sekolah negeri. Kepala sekolah yang baru dilantik diharapkan mampu berinovasi agar semakin banyak lagi siswa yang berminat bersekolah di sekolahan negeri.

“Kami juga sampaikan, sekolah yang berdekatan dan murid yang kurang lebih baik direpgroping saja. Nanti guru dialihkan ke sekolah yang gurunya masih minim guru,” ungkapnya.

Pihaknya meminta, supaya guru dan kepala sekolah membuat aplikasi sebagai laporan yang terkoneksi langsung dengan handphone orang tua siswa. Dengan begitu, orang tua tak lagi was-was dengan keberadaan anaknya saat di jam pelajaran sekolah.

Menurutnya, meski sudah melakukan pelantikan terhadap kepala sekolah yang mengalami kekosongan, pihaknya mengaku masih ada kekosongan yang terjadi di sekolah Kabupaten Kudus. Sebab, beberapa kepala sekolah juga ada yang pensiun, kurang satu bulan bahkan 10 hari lagi pensiun.

“Karena pensiun untuk guru setiap bulan itu kan ada 40 orang. Terkait untuk guru paruh waktu nanti kita rollingnya kita segera maping. Teman-teman PPPK yang dinas-nya ada banyak kita berikan kepada dinas yang masih kurang. Karena kita tidak boleh mengangkat tenaga non ASN, yang bisa diangkat outshorsing, itu sopir, tenaga pengamanan dan kebersihan,” jelasnya.

Baca Juga: Dandangan Kudus 2026 Dipastikan Bebas Calo, Pendaftaran Stand Berbasis Digital

Ia menegaskan, kepada PPPK yang sudah dilantik jangan sampai lemah dan terus meningkatkan kinerja demi melayani masyarakat Kabupaten kudus. Dia berkomitmen selama kepemimpinannya, harus bergerak cepat dan minim terhadap komplain yang ada.

“Namanya nasib tidak ada yang tahu. Harus menjalankan tugas-tugas yang ada di Kudus, terutama untuk pelayanan. Kami berkomitmen jangan sampai ada komplain yang begitu besar, komplain itu harus diminimalisir, layani masyarakat baik dan bergerak cepat,” imbuhnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Upah Buruh Rokok di Kudus Naik 7,73 Persen pada 2026, Jadi Rp3,13 Juta

0
Ketua FSP RTMM-SPSI, Sabar. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Upah buruh rokok di Kabupaten Kudus dipastikan mengalami kenaikan pada tahun 2026. Kenaikan ini merupakan hasil kesepakatan antara Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan, dan Minuman (FSP RTMM-SPSI) dengan Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK).

Ketua FSP RTMM-SPSI, Sabar, menjelaskan bahwa di Kudus tidak diberlakukan upah sektoral untuk industri rokok. Sebagai gantinya, upah buruh ditetapkan melalui mekanisme upah kesepakatan antara serikat pekerja dan pihak perusahaan rokok.

Baca Juga: Bakal Ada 500 Stand di Dandangan 2026 Kudus, Harga Mulai Rp1,5 Juta

“Kalau di Kudus, kita sudah sepakat tidak ada upah sektoral. Yang ada adalah upah kesepakatan antara RTMM dengan PPRK,” ujar Sabar.

Dia menuturkan, upah buruh rokok Kudus tahun 2026 disepakati mengalami kenaikan 7,73 persen dari tahun 2025. Kesepakatan ditandatangani pada Jum’at 26 Desember 2025.

“Awalnya, kami mengusulkan kenaikan 8 persen. Tetapi pihak PPRK keberatan, sehingga disepakati angka 7,73 persen,” bebernya.

Sabar mengungkapkan, upah buruh rokok di Kudus pada tahun 2025 sebesar Rp2.910.000. Dengan adanya kenaikan tersebut, maka upah buruh rokok pada tahun 2026 menjadi Rp3.135.000.

“Upah tersebut berlaku bagi buruh rokok yang sudah bekerja lebih dari satu tahun. Jika masa kerjanya belum genap setahun, maka besaran upahnya ikut Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang ditentukan oleh Gubernur Jawa Tengah yakni sebesar Rp 2.818.585,” jelasnya.

Sabar mengungkapkan, ada beberapa pertimbangan utama dalam penetapan kenaikan upah 7,73 persen tersebut. Salah satunya adalah tidak adanya kenaikan cukai rokok, serta meningkatnya produksi perusahaan rokok di Kudus.

“Pertimbangannya karena cukai rokok tidak naik dan produksi perusahaan juga meningkat. Selain itu, kenaikan ini untuk memberi semangat kepada para buruh,” sebutnya.

Ia menambahkan, kenaikan upah ini juga berlaku bagi buruh yang bekerja di perusahaan rokok yang tergabung dalam PPRK. Saat ini, tercatat sekitar 136 perusahaan rokok di Kudus yang menjadi anggota PPRK.

Baca Juga: Dandangan Kudus 2026 Dipastikan Bebas Calo, Pendaftaran Stand Berbasis Digital

Sementara itu, jumlah buruh yang tergabung dalam FSP RTMM-SPSI di Kabupaten Kudus mencapai sekitar 70 ribu orang. Kenaikan upah ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan buruh di tengah dinamika industri rokok.

“Kami berterima kasih kepada perusahaan-perusahaan rokok di Kudus yang sudah sepakat memberikan kenaikan upah ini. Semoga produksinya lancar, terus meningkat, dan tetap memperhatikan kesejahteraan buruh,” harap Sabar.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Pati Naik Signifikan Sepanjang 2025

0
Kepala UPTD PPA Dinsos P3AKB Kabupaten Pati, Hartono. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Jumlah laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pati mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2025. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos P3AKB Kabupaten Pati mencatat, laporan yang masuk tahun ini telah menembus ratusan kasus, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di angka puluhan.

Kepala UPTD PPA Dinsos P3AKB Kabupaten Pati, Hartono, menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Selain meningkatnya keberanian masyarakat untuk melapor, tingginya peristiwa kekerasan juga menjadi penyumbang utama. Sepanjang 2025, tercatat 113 laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak, sedangkan pada 2024 jumlahnya 81 kasus.

Baca Juga: Bupati Pati Minta Kades Tak Main Politik, Sudewo : ‘Soal Politik Nanti Ada Saatnya’

“Kalau dari data yang kita punya (tahun 2025) disandingkan dari 2024 ada kenaikan yang melapor ke kita. Maksudnya yang kita tangani ada kenaikan bukan berarti tahun ini jelek karena kasus kekerasan ini seperti gunung es, artinya di permukaan ada (sedikit), di bawah permukaan bawah laut banyak,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).

Menurut Hartono, peningkatan laporan justru menunjukkan adanya dampak positif dari upaya sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah dan berbagai pihak. Kesadaran masyarakat untuk berani melapor dinilai semakin tumbuh.

“Di 2025 yang kita tangani lebih banyak mungkin ada keberhasilan sosialisasi masyarakat sehingga berani speak up. Harapan saya kesadaran berani lapor semakin tinggi karena ada beberapa rujukan kementerian juga ada,” ucap Hartono.

Dari total laporan yang masuk, kasus kekerasan terhadap anak menjadi yang paling dominan. Peristiwa tersebut banyak terjadi di lingkungan pendidikan. Posisi kedua ditempati kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), disusul kekerasan seksual terhadap perempuan.

“113 kasus yang sudah masuk laporan ke kita dan sudah kita dampingi. Tahun kemarin 81 kasus, jadi ada kenaikan sekian. Sesuai data kami paling tinggi kekerasan pada anak, kedua KDRT, ketiga kekerasan seksual pada perempuan,” ungkapnya.

Ia merinci, kasus kekerasan terhadap anak mencapai sekitar 25 persen dari total laporan. Sementara KDRT berada di angka 20 persen, dan sisanya merupakan bentuk kekerasan lain yang terjadi di berbagai lingkungan.

Lebih lanjut, Hartono menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak paling banyak terjadi di sekolah. Korban tidak hanya mengalami kekerasan dari teman sebaya, tetapi juga dalam relasi pacaran remaja hingga melibatkan tenaga pendidik. Adapun kasus kekerasan dalam rumah tangga umumnya terjadi di lingkup pasangan suami istri.

“Kekerasan anak itu ada di sekolah, rata-rata sekolah yang kita dampingi, pelaku ada dari temen, pacaran (anak-anak remaja SMP-SMA), tenaga pendidik ada. Yang kita dampingi selain korban ada saksi, kalau pelaku lain lagi, itu ranah Bapas (Balai Pemasyarakatan),” tuturnya.

Selain memberikan pendampingan kepada korban, UPTD PPA juga menangani saksi pelapor. Tidak sedikit laporan datang dari saksi kasus perkelahian maupun dugaan pelecehan seksual yang melibatkan anak.

“Anak sebagai saksi berkelahi dan pelecehan seksual yang banyak, bahkan datanya lumayan, biasanya lebih dari satu. Mudah-mudahan harapan dari UPTD masyarakat tahu kalau ada kekerasan gimana langkahnya, kemana lapornya harus tahu,” paparnya.

Baca Juga: Libatkan UMKM, SPPG Winong 1 Bagikan Menu MBG ke Warga 

Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan menangani kasus kekerasan di wilayah Kabupaten Pati, UPTD PPA Dinsos P3AKB terus berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Penanganan kasus dilakukan bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH), kepolisian, serta instansi terkait lainnya hingga proses pendampingan dan penanganan dinyatakan tuntas.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Lima Desa Berebut Tiket Wakili Jepara di Ajang Liga Desa 2025-2026 

0
Liga Desa 2025-2026 Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebagai persiapan kegiatan ajang Liga Desa 2025-2026 yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Desa Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menggelar seleksi Liga Desa. 

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Edy Utoyo menjelaskan Liga Desa sendiri merupakan program dari Kementerian Desa,nPembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). 

Baca Juga: Ketersediaan Air Jadi Kendala Swasembada Pangan di Jepara 

Program itu bertujuan untuk mengembangkan talenta muda desa, meningkatkan kerukunan dan sportivitas, serta menjadi ajang silaturahmi antar desa. 

“Seleksinya kita adakan tiga hari, mulai Senin-Rabu, (29-31/12/2025) di Stadion GBK (Gelora Bumi Kartini) Jepara. Hari Rabu nanti finalnya, penentuan pemenang,” kata Edy saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Selasa (30/12/2025). 

Edy menyebutkan seleksi itu total hanya diikuti oleh lima Desa. Yaitu Desa Cepogo dan Balong Kecamatan Kembang, Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo, Desa Banjaran Kecamatan Bangsri, dan Desa Tegalsambi Kecamatan Tahunan. 

“Pesertanya yang mengikuti lima desa, karena diselenggarakan akhir tahun sehingga ada keterbatasan peserta,” ujarnya. 

Pemenang dari ajang seleksi Liga Desa itu nantinya, Edy mengatakan akan mewakili Kabupaten Jepara di ajang Liga Desa yang akan diselenggarakan di Kabupaten Pati pada Sabtu, (3/1/2026) mendatang. 

Meskipun diselenggarakan oleh Kementerian, Edy melanjutkan ajang Liga Desa 2025/2026 di Kabupaten Pati nantinya hanya akan diikuti oleh peserta dari Provinsi Jawa Tengah. 

“Pesertanya nanti se-Jateng meskipun ini dalam rangka Hari Desa 2026, karena peringatan Hari Desa nanti dipusatkan di Kabupaten Boyolali pada 15 Januari,” kata Edy. 

Baca Juga: Tak Ada Pesta Kembang Api, Pemkab Jepara Bakal Gelar Doa Lintas Agama di Malam Tahun Baru 2026 

Selain Liga Desa, Edy menyebutkan terdapat beberapa lomba lain yang juga diselenggarakan dalam rangka perayaan Hari Desa 2026. 

“Lomba lain yang diikuti Jepara itu salah satunya lomba video desa yang berisi potensi dan pengembangan potensi wisata desa. Desa yang kita tunjuk itu Tegalsambi dan Plajan,” pungkas Edy.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

28 Desa di Jepara Gelar Pemilihan Petinggi Tahun 2026

0
Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebanyak 28 desa di Kabupaten Jepara dijadwalkan menggelar pemilihan kepala desa atau petinggi pada tahun 2026. Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, menyebutkan pelaksanaan akan dibagi dalam dua tahap, yakni Pemilihan Petinggi Antar Waktu (PAW) dan Pemilihan Petinggi Serentak.

Agus menjelaskan, PAW digelar khusus bagi desa yang saat ini dipimpin Pejabat (Pj) Petinggi, dengan sisa masa jabatan lebih dari satu tahun.

Baca Juga: Tak Ada Pesta Kembang Api, Pemkab Jepara Bakal Gelar Doa Lintas Agama di Malam Tahun Baru 2026 

Dari delapan desa yang dipimpin Pj, hanya empat desa yang memenuhi syarat, yaitu Temukan dan Bugel (Kecamatan Kedung), Bandung (Mayong), serta Platar (Tahunan).

Tahapan PAW dimulai Januari 2026, pencalonan Januari–Februari, dan pemungutan suara serta penetapan hasil pada Februari–Maret 2026.

Selain PAW, sebanyak 24 desa lainnya akan menggelar pemilihan serentak. Desa tersebut tersebar di berbagai kecamatan, antara lain Kelet, Jlegong, Klepu (Keling); Jugo (Donorojo); Kaliaman (Kembang); Banjaran (Bangsri); Srobyong (Mlonggo); Kawak, Suwawal Timur, Bulungan (Pakis Aji); Wonorejo, Kedungcino (Jepara); Semat, Ngabul, Kecapi (Tahunan); Surodadi (Kedung); Ngeling (Pecangaan); Kriyan (Kalinyamatan); Teluk Wetan, Ketileng Singolelo, Brantak Sekarjati (Welahan); Sengon Bugel (Mayong); Tritis (Nalumsari); serta Nyamuk (Karimunjawa). Tahapan persiapan dimulai Juni 2026, pencalonan Juli, pemungutan suara November, dan penetapan hasil pada Desember 2026.

Baca Juga: Ketersediaan Air Jadi Kendala Swasembada Pangan di Jepara 

Sebagai persiapan, DPRD Jepara akan membahas perubahan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2022 terkait tata cara pencalonan, pemilihan, pengangkatan, pelantikan, dan pemberhentian petinggi.

Agus menargetkan pembahasan selesai pada Februari 2026. “Pembahasan perubahan Perda itu ditarget selesai Februari 2026,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hadapi Ancaman Bencana, BPBD Pati Genjot Pembentukan Mastana

0
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana terus digencarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati. Salah satunya melalui pengembangan program Masyarakat Tangguh Bencana (Mastana) yang kini telah menjangkau sejumlah wilayah rawan bencana di kabupaten tersebut.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya menyampaikan, bahwa pengembangan Mastana telah dilakukan secara bertahap, baik di wilayah utara maupun selatan Pati. Untuk wilayah utara, program ini difokuskan di Kecamatan Dukuhseti.

Baca Juga: Bupati Pati Minta Kades Tak Main Politik, Sudewo: ‘Soal Politik Nanti Ada Saatnya’

Sementara di wilayah selatan, pengembangan Mastana menyasar sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran sungai, mulai dari Desa Godo, Gunungpanti, Angkatan Lor, Angkatan Kidul, hingga Kecamatan Gabus. Selain itu, Kecamatan Juwana juga menjadi salah satu wilayah yang telah dibentuk Mastana.

“Kecamatan Juwana kita sudah bentuk Mastana. Kemudian di desa yang dekat dengan Pati, Desa Gadingrejo itu kita bentuk, kemudian di Dukuhseti, dan yang terakhir kemarin masyarakat atau desa yang berada di aliran Godo, mulai Godo, Gunungpanti, Angkatan Lor dan Kidul sampai dengan wilayah kecamatan Gabus,” ujar Martinus.

Menurutnya, pembentukan Mastana bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana alam, terutama yang dipicu oleh cuaca ekstrem.

Dengan adanya Mastana, masyarakat di wilayah hulu dan hilir diharapkan dapat membangun komunikasi dan koordinasi yang baik guna meminimalkan risiko bencana.

“Masyarakat yang ada di hulu itu selalu berkomunikasi dengan masyarakat yang ada di hilir supaya saling mengingatkan,” ungkapnya.

Tak hanya Mastana, BPBD Kabupaten Pati juga terus mendorong pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Hingga saat ini, tercatat baru terdapat 27 Destana di seluruh wilayah Kabupaten Pati.

Baca Juga: Libatkan UMKM, SPPG Winong 1 Bagikan Menu MBG ke Warga 

Martinus mengakui, bahwa masih banyak desa yang belum memiliki Destana. Namun, pihaknya berkomitmen untuk mendorong pembentukan Destana di lebih banyak desa pada tahun mendatang, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.

“Jadi Desa Tangguh Bencana atau Destana, memang kita belum seluruh Desa itu terbentuk Destana,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

KONI Kudus Gelar Award 2025, Apresiasi Atlet dan Insan Olahraga

0
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus untuk pertama kalinya menggelar KONI Kudus Award 2025. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus untuk pertama kalinya menggelar KONI Kudus Award 2025. Ajang bertajuk “Menuju Olahraga Sehat Berprestasi dari Kudus untuk Negeri” ini berlangsung di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (29/12/2025) malam, sebagai bentuk apresiasi kepada atlet, pengurus cabang olahraga, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, dan pihak lain yang berkontribusi memajukan olahraga di Kota Kretek.

Ketua KONI Kudus, Sulistyanto, menyampaikan bahwa penghargaan ini diharapkan menciptakan sinergi lintas sektor demi lahirnya atlet potensial. “Olahraga tidak hanya ditentukan oleh atlet dan pelatih, tetapi juga dukungan banyak pihak,” ujarnya.

Baca Juga: Luna Hijab Indonesia Kenalkan Butik Terbaru Lewat Luna GZ Year End Run 2025

Ia menambahkan, sejumlah perusahaan telah aktif membina cabang olahraga seperti bulutangkis, tenis meja, atletik, sepak bola, tenis lapangan, tenis indoor, hingga panahan. Perguruan tinggi juga berperan melalui pemberian beasiswa dan fasilitas olahraga, sementara sekolah dengan kelas khusus olahraga (KKO) turut mendorong perkembangan atlet daerah.

Dalam malam penganugerahan, KONI Kudus memberikan penghargaan kepada tiga atlet berprestasi. Mereka adalah Safira Dwi Meilani (pencak silat) sebagai Atlet Favorit 2025, peraih emas SEA Games 2023 Kamboja dan 2025 Thailand. Lalu ada Mohammad Zaki Ubaidillah (bulu tangkis) dan Devi Melinda (bola voli pantai).

Baca Juga: Mahasiswa KKN UMKU Bikin Insinerator Sederhana Ramah Lingkungan, Begini Wujudnya

Safira menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diterimanya. “Alhamdulillah, ini pertama kalinya saya mendapat penghargaan seperti ini. Semoga bisa memotivasi atlet lain untuk terus berprestasi,” katanya.

Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, mengapresiasi penyelenggaraan KONI Kudus Award 2025. Ia menegaskan dukungan penuh Pemkab Kudus terhadap pengembangan atlet daerah. “Semoga semakin banyak atlet Kudus yang mampu berprestasi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional,” tuturnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sejarah Baru, Pati Resmi Gelar Liga Sepak Bola Putri Perdana

0
Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Pati terus membuat terobosan untuk pengembangan sepak bola di daerahnya. Kali ini, pihaknya menggelar Liga Putri PSSI Pati 2025 yang berlangsung, Minggu (28/12/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Pati terus membuat terobosan untuk pengembangan sepak bola di daerahnya. Kali ini, pihaknya menggelar Liga Putri PSSI Pati 2025 yang berlangsung, Minggu (28/12/2025).

“Ini termasuk sejarah baru di Pati karena kompetisi sepak bola putri kali pertama digelar,” ujar Ketua Umum Askab PSSI Pati Dian Dwi Budianto.

Baca Juga: Bupati Pati Minta Kades Tak Main Politik, Sudewo : ‘Soal Politik Nanti Ada Saatnya’

Liga yang berlangsung di Stadion Joyokusumo Pati itu, diikuti delapan tim sepak bola wanita. Klub tersebut terdiri atas Jamkid FC, SSB Regaloh Putri, Gunungwungkal Femeni Club, Pondowan United Tayu, SSB Garuda Jaya Tayu Kulon, GCR Sukolilo, Al Asyiq Pundenrejo, dan Putra Pantura United.

Dian menyebut, belakangan ini sepak bola wanita memang menjadi salah satu konsen pengembangan. Mereka dikelola Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI), yang merupakan badan resmi di bawah PSSI.

“Kami serius mengembangkan sepak bola wanita dengan pembinaan terstruktur dan berkelanjutan. Kebetulan antusiasnya tinggi sehingga harus difasilitasi dalam pembinaan, di antaranya melalui kompetisi,” katanya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Dian Blado ini menjelaskan, potensi sepak bola wanita di Bumi Mina Tani relatif besar. Mengingat, banyak anak putri tertarik menekuni olahraga yang sejauh ini digeluti mayoritas laki-laki.

Dia mengungkapkan, keberadaan sepak bola wanita sejatinya telah lama ada di Pati. Setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada tim yang mewakili Pati untuk ambil bagian dalam kompetisi sepak bola wanita di luar daerah, seperti Kudus.

Selain menjadi titik awal kompetisi berkelanjutan, Liga Putri PSSI Pati 2025 sekaligus menjadi ajang pencarian bakat (talent scouting) pesepak bola muda Pati. Performa mereka dipantau secara khusus dalam liga.

Baca Juga: Libatkan UMKM, SPPG Winong 1 Bagikan Menu MBG ke Warga 

“Kami sekaligus melakukan talent scouting untuk kompetisi Hidro plus dan Milk Life,” ucapnya.

Liga Putri PSSI Pati yang dibuka Askab PSSI beserta KONI dan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Pati mendudukkan Jamkid FC Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo sebagai juara I. Adapun juara II diraih Al Asyiq Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu serta juara III bersama didapat Gunungwungkal Femeni Club dan Putra Pantura United. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bakal Ada 500 Stand di Dandangan 2026 Kudus, Harga Mulai Rp1,5 Juta

0
Suasana dandangan 2024 di Kudus. Foto: Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Dandangan penyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah/2026 Masehi dipastikan kembali digelar di Kabupaten Kudus. Tahun ini, penjualan stand pedagang dilakukan dengan sistem online, dengan enam klaster yang menawarkan harga berbeda.

Koordinator penyelenggaraan Dandangan, Anjas Pramono, menyebutkan total ada sekitar 500 stand yang akan berderet sepanjang Jalan Sunan Kudus, mulai dari Lampu Merah Alun-Alun Simpang Tujuh hingga Perempatan Jember.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UMKU Bikin Insinerator Sederhana Ramah Lingkungan, Begini Wujudnya

Stand akan dibagi ke dalam enam klaster: A, B, C, D, E, dan F. Klaster A, B, dan C disebut sebagai favorit karena lokasinya strategis.

“Klaster A berada sepanjang lampu merah Alun-Alun Simpang Tujuh hingga perempatan pekojan. Klaster B yaitu Perempatan Pekojan hingga Gang Besar Ledok,” sebutnya.

Sementara itu, Klaster C bakal ada di Gang Ledok Besar hingga Jembatan Sungai Gelis.

Tiga klaster tersebut menampung sekitar 322 stand. Sementara klaster D, E, dan F di kawasan barat Jembatan Sungai Gelis hingga Perempatan Jember menampung 170 stand.

Terkait harga sewa stand, untuk klaster A, harga sewa stand dibanderol sebesar Rp3,5 juta. Untuk klaster B harga sewanya Rp3.250.000. Sedangkan klaster C harga sewa standnya sebesar Rp3 juta.

“Harga sewa stand di klaster D, E dan F lebih murah. Yakni Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta,” rincinya.

Setiap stand berukuran 3×3 meter dengan fasilitas listrik, retribusi daerah, kebersihan, dan keamanan.

Untuk menghindari praktik percaloan, Pemkab Kudus menerapkan sistem pendaftaran online khusus klaster A, B, dan C. Informasi layout lokasi, harga, hingga nomor rekening resmi pengelola akan ditampilkan secara terbuka melalui akun media sosial @dandangankudus.

Baca Juga: Luna Hijab Indonesia Kenalkan Butik Terbaru Lewat Luna GZ Year End Run 2025

Sementara klaster D, E, dan F masih menggunakan mekanisme pendaftaran konvensional.

Tradisi Dandangan biasanya berlangsung selama 10 hari. Tahun ini, Pemkab berupaya memperpanjang hingga 12 hari agar masyarakat dapat menikmati dua kali malam Minggu dan pedagang memperoleh perputaran ekonomi lebih besar.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dandangan Kudus 2026 Dipastikan Bebas Calo, Pendaftaran Stand Berbasis Digital

0
Stan di Tradisi Dandangan Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Dandangan Kudus kembali hadir menyambut bulan suci Ramadan 1447 H/2026 M. TBerbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali ini dipastikan bebas dari praktik percaloan stand pedagang.

Koordinator Penyelenggaraan Dandangan, Anjas Pramono, menyebutkan sistem pendaftaran stand akan dilakukan secara digital.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UMKU Bikin Insinerator Sederhana Ramah Lingkungan, Begini Wujudnya

Pedagang dapat membeli stand melalui platform online resmi yang terhubung dengan akun media sosial @dandangankudus.

“Semua informasi, mulai dari layout lokasi, harga stand, hingga nomor rekening resmi pengelola akan ditampilkan secara terbuka,” ujar Anjas, Senin (29/12/2025).

Langkah digitalisasi ini dilakukan setelah banyak aduan masyarakat terkait harga stand yang melonjak akibat permainan calo.

Dengan sistem baru, harga stand dapat diakses langsung oleh publik sehingga lebih transparan dan terjangkau.

Pada Dandangan 2026, panitia menyiapkan sekitar 500 stand yang dibagi dalam enam klaster. Tiga klaster (A, B, C) akan menggunakan sistem pendaftaran online, sementara tiga klaster lainnya (D, E, F) masih dengan mekanisme konvensional.

Baca Juga: Luna Hijab Indonesia Kenalkan Butik Terbaru Lewat Luna GZ Year End Run 2025

Meski jadwal resmi belum ditentukan, tradisi Dandangan biasanya berlangsung sekitar 10 hari menjelang bulan Ramadan.

Tahun ini, Pemkab Kudus berupaya memperpanjang durasi hingga 12 hari agar masyarakat dapat menikmati dua kali malam Minggu sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi pedagang.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terdampar 15 Hari di Hutan Pinus Aceh, Penderes Asal Jateng Akhirnya Dipulangkan

0
8 warga asal Jawa Tengah yang sempat terjebak banjir bandang dan longsor di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, akhirnya dipulangkan ke kampung halaman. Foto: Ist

BETANEWS.ID, JAKARTA – 8 warga asal Jawa Tengah yang sempat terjebak banjir bandang dan longsor di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, akhirnya dipulangkan ke kampung halaman. Mereka tiba di Jakarta menggunakan pesawat Hercules TNI AU pada Senin (29/12/2025) dan selanjutnya melanjutkan perjalanan darat menuju daerah asal masing-masing.

Salah satu korban, Sarto, penderes getah pinus asal Kabupaten Cilacap, menceritakan pengalamannya terdampar selama 15 hari di tengah hutan pinus bersama enam rekannya. Saat bencana terjadi, mereka sedanh bekerja menderes getah pinus di kawasan hutan Linge.

Baca Juga: Refleksi Ekonomi Jateng 2025: Pertumbuhan Ekonomi Melesat, Investasi Bergeliat

“Kami terjebak sampai 15 hari di hutan. Jalan keluar tertutup longsor, tempat tinggal juga rusak. Makan sangat terbatas. Alhamdulillah sekarang sudah bisa pulang,” ujar Sarto setibanya di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Menurut Sarto, banjir bandang dan longsor membuat seluruh akses keluar dari lokasi kerja tertutup. Ketujuh penderes tersebut bertahan dengan sisa logistik yang ada sebelum akhirnya memutuskan berjalan kaki menembus medan terjal dan longsoran tanah menuju lokasi pengungsian.

“Kami jalan kaki berkilo-kilo meter, jalannya naik turun dan sangat berbahaya. Selama delapan tahun bekerja di sana, baru kali ini mengalami kejadian seperti ini,” katanya.

Sesampainya di pengungsian, kondisi belum sepenuhnya aman. Keterbatasan akses membuat distribusi logistik terhambat, sehingga kebutuhan makanan pun minim.

“Di pengungsian juga serba kekurangan. Jadi kami sangat bersyukur bisa dipulangkan,” imbuhnya.

Penderes lainnya, Sarna Parjono, yang baru tujuh bulan bekerja di Aceh, mengaku trauma masih dirasakannya meski bersyukur selamat dari bencana.

“Alhamdulillah bisa pulang dengan selamat. Kejadiannya benar-benar tidak kami sangka,” ujarnya.

Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Sarido, menjelaskan bahwa ke-18 warga yang dipulangkan terdiri atas 16 warga Kabupaten Cilacap, serta masing-masing satu warga Brebes dan Pemalang. Seluruhnya dipastikan dalam kondisi sehat.

“Kami terus berkoordinasi dengan BPBD Aceh untuk memastikan tidak ada lagi warga Jawa Tengah yang tertinggal. Pemerintah hadir untuk memastikan keselamatan warganya,” kata Sarido.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Tetapkan UMP Jawa Tengah 2026 Rp 2.327.386

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam melindungi warganya di manapun berada, termasuk mereka yang merantau dan terdampak bencana alam.

“Semua kita bantu, mulai dari pemulangan hingga fasilitasi modal usaha, agar mereka bisa pulih dan kembali beraktivitas di daerah asal,” kata Ahmad Luthfi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Mahasiswa KKN UMKU Bikin Insinerator Sederhana Ramah Lingkungan, Begini Wujudnya

0
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) 2025 di Desa Karangbener, Kecamatan Bae membuat inovasi untuk pengolahan sampah. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) 2025 di Desa Karangbener, Kecamatan Bae membuat inovasi untuk pengolahan sampah. Mereka membuat insinerator sederhana yang bakal difungsikan untuk membakar sampah.

Insinerator yang dibuat dari bata hebel tersebut diresmikan oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, Senin (29/12/2025). Pada momen tersebut juga dilakukan uji coba pembakaran sampah.

Baca Juga: Buka Pelayaran Lagi, Begini Nasib Penumpang KMP Siginjai yang Sempat Digantung 

Bupati Sam’ani mengapresiasi atas inovasi pembuatan insinerator oleh mahasiswa KKN UMKU 2025 di Desa Karangbener, Kecamatan Bae. Dia pun berharap, inovasi tersebut bisa bermanfaat untuk masyarakat.

“Semoga insinerator sederhana ini bisa bermanfaat untuk masyarakat. Serta, masyarakat makin faham dan teredukasi terkait sampah,” ujar Sam’ani kepada awak media di Balai Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Senin (29/12/2025). 

Ia juga mengimbau kepada masyarakat agar turut serta dalam penanganan sampah di Kota Kretek. Yakni, dengan mulai melakukan pemilahan sampah rumah tangga masing-masing.

“Nantinya sampah-sampah yang tidak bermamfaat bisa dibakar di mesin insinerator. Sedangkan sampah organik bisa diambil oleh PT Djarum melalui Program Kudus Asik,” bebernya. 

Sementara Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN UMKU di Desa Gondangmanis, Danung Firmansyah mengatakan, ide membuat insinerator sederhana dikarenakan ada keluhan bahwa sebagian masyarakat setempat masih membakar sampah sembarangan. Dengan adanya insinerator sederhana ini pembakaran sampah nantinya bisa terpusat di titik-titik tertentu.

“Nantinya masyarakat tidak lagi sembarangan membakar sampah. Sehingga tak mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat,” ujar Danung.

Baca Juga: Jumlah Wisatawan Karimunjawa Jepara Menurun di Libur Nataru

Dia menuturkan, bahwa insinerator sederhana ini memang tidak spesifik terkait kapasitasnya. Sebab, ketika api sudah menyala itu mau dibuat membakar sampah berapapun bisa. 

“Insinerator ini nantinya bisa digunakan untuk membakar sampah-sampah daun kering yang tak lagi punya nilai ekonomi. Nantinya sisa pembakaran juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk,” bebernya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tak Ada Pesta Kembang Api, Pemkab Jepara Bakal Gelar Doa Lintas Agama di Malam Tahun Baru 2026 

0
Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Malam pergantian tahun baru 2026 di Kabupaten Jepara dipastikan berlangsung tanpa adanya pesta kembang api. 

Sebagai gantinya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara akan menggelar doa lintas agama yang dipusatkan di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji.

 Baca Juga: Buka Pelayaran Lagi, Begini Nasib Penumpang KMP Siginjai yang Sempat Digantung 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan malam perayaan tahun baru di Jepara pada tahun ini sengaja dirancang secara sederhana namun sarat makna yang mengedepankan nilai kebersamaan, ketenangan, serta pelestarian budaya lokal.

“Tahun Baru akan dipusatkan di Plajan. Kami hanya akan doa bersama sambil menayangkan kearifan lokal. Perayaannya kami buat kondusif dan tidak berlebihan,” katanya pada Senin, (29/12/2025). 

Doa bersama tersebut menurutnya juga ditujukan untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan, baik untuk Kabupaten Jepara maupun Indonesia secara umum dalam menyongsong tahun yang baru.

Dengan konsep tersebut, ia berharap masyarakat dapat menyambut Tahun Baru dengan suasana damai, aman, serta penuh refleksi. 

Terpisah, Kapolres Jepara, AKBP Erick Budi Santoso juga mengingatkan agar tidak ada penggunaan petasan dan kembang api pada perayaan malam pergantian tahun. 

Penegasan ini menurutnya sejalan dengan kebijakan Mabes Polri yang tidak memberikan izin pesta kembang api pada malam puncak Tahun Baru 2026. 

“Kami di jajaran Polres Jepara searah dan satu komando dengan kebijakan Kapolri. Untuk perayaan malam tahun baru, tidak ada izin penggunaan kembang api maupun petasan. Hal ini bukan semata-mata larangan, tetapi bentuk empati dan kepedulian kita bersama terhadap saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana,” katanya. 

AKBP Erick menjelaskan, kebijakan tersebut juga merupakan ajakan moral kepada masyarakat agar perayaan tahun baru dimaknai secara lebih sederhana dan bermakna, dengan memperbanyak doa serta kegiatan yang bermanfaat bagi sesama, khususnya mendoakan warga di wilayah Sumatera yang terdampak banjir dan longsor. 

Baca Juga: Jumlah Wisatawan Karimunjawa Jepara Menurun di Libur Nataru

“Kami berharap masyarakat Kabupaten Jepara dapat memahami kebijakan ini dan bersama-sama menjaga suasana kebatinan yang sama, penuh empati dan solidaritas,” lanjutnya.

Melalui imbauan ini, Polres Jepara berharap perayaan tahun baru dapat berjalan aman, tertib, dan kondusif, serta menjadi momentum memperkuat persatuan, kepedulian sosial, dan kehadiran negara dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bupati Pati Minta Kades Tak Main Politik, Sudewo : ‘Soal Politik Nanti Ada Saatnya’

0
Pengarahan Bupati Sudewo kepada ratusan kades hingga camat dan kepala dinas, di Pendopo Kabupaten Pati, Senin (29/12/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI  – Bupati Pati Sudewo meminta kepada seluruh kepala desa untuk tidak bermain politik. Sudewo meminta agar kades tetap memberikan pelayanan masyarakat sebaik mungkin. 

“Saya minta kepada semua kepala desa tidak usah main politik-politikan. Pokoknya fokus bekerja melayani masyarakat sebaik-baiknya membangun kabupaten dengan tulus. Soal politik itu nanti ada saatnya sendiri pada saat pemilu,” ujar Sudewo. 

Hal tersebut disampaikan bupati saat memberikan pengarahan kepada ratusan kades hingga camat dan kepala dinas, di Pendopo Kabupaten Pati, Senin (29/12/2025). Kegiatan itu dilakukan untuk menyongsong Tahun Baru 2026 mendatang. 

Baca Juga: Buka Pelayaran Lagi, Begini Nasib Penumpang KMP Siginjai yang Sempat Digantung 

Pada kesempatan itu, Sudewo juga  menyampaikan, agar tahun baru 2026 juga tidak dirayakan dengan foya-foya. Hal itu, katanya untuk merespon keprihatinan terhadap bencana yang terjadi di wilayah Sumatera utara, selatan dan Aceh. 

“Sebagai bentuk juga atas keprihatinan kita terhadap bencana yang terjadi di Sumatera Utara Sumatera Barat dan Aceh. Keprihatinan itu harus kita wujudkan dengan menjaga mengendalikan rasa kepuasan diri tidak euforia tidak foya-foya. Saya minta semuanya menjaga itu,” jelas Sudewo.

Pihaknya juga meminta kepada warganya untuk menjaga situasi di Kabupaten Pati tetap aman dan kondusif. Dalam hal ini, Ia menekankan bahwa kepala desa berhak menjaga wilayahnya masing-masing.

Baca Juga: Jumlah Wisatawan Karimunjawa Jepara Menurun di Libur Nataru 

“Jangan sampai di warganya itu ada tawuran ada mabuk-mabukan, ada gangster ada balap-balapan pokoknya hindari semuanya itu supaya situasinya aman dan kondusif,” ucapnya. 

Selain itu, dalam rangka menyongsong tahun baru 2026, pihaknya juga menekankan untuk tetap menjalankan program 10 ton per hektare. Disamping itu, sektor pertanian yang lain juga harus dimaksimalkan. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -