Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Pati Naik Signifikan Sepanjang 2025

BETANEWS.ID, PATI – Jumlah laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pati mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2025. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos P3AKB Kabupaten Pati mencatat, laporan yang masuk tahun ini telah menembus ratusan kasus, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di angka puluhan.

Kepala UPTD PPA Dinsos P3AKB Kabupaten Pati, Hartono, menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Selain meningkatnya keberanian masyarakat untuk melapor, tingginya peristiwa kekerasan juga menjadi penyumbang utama. Sepanjang 2025, tercatat 113 laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak, sedangkan pada 2024 jumlahnya 81 kasus.

Baca Juga: Bupati Pati Minta Kades Tak Main Politik, Sudewo : ‘Soal Politik Nanti Ada Saatnya’

-Advertisement-

“Kalau dari data yang kita punya (tahun 2025) disandingkan dari 2024 ada kenaikan yang melapor ke kita. Maksudnya yang kita tangani ada kenaikan bukan berarti tahun ini jelek karena kasus kekerasan ini seperti gunung es, artinya di permukaan ada (sedikit), di bawah permukaan bawah laut banyak,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).

Menurut Hartono, peningkatan laporan justru menunjukkan adanya dampak positif dari upaya sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah dan berbagai pihak. Kesadaran masyarakat untuk berani melapor dinilai semakin tumbuh.

“Di 2025 yang kita tangani lebih banyak mungkin ada keberhasilan sosialisasi masyarakat sehingga berani speak up. Harapan saya kesadaran berani lapor semakin tinggi karena ada beberapa rujukan kementerian juga ada,” ucap Hartono.

Dari total laporan yang masuk, kasus kekerasan terhadap anak menjadi yang paling dominan. Peristiwa tersebut banyak terjadi di lingkungan pendidikan. Posisi kedua ditempati kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), disusul kekerasan seksual terhadap perempuan.

“113 kasus yang sudah masuk laporan ke kita dan sudah kita dampingi. Tahun kemarin 81 kasus, jadi ada kenaikan sekian. Sesuai data kami paling tinggi kekerasan pada anak, kedua KDRT, ketiga kekerasan seksual pada perempuan,” ungkapnya.

Ia merinci, kasus kekerasan terhadap anak mencapai sekitar 25 persen dari total laporan. Sementara KDRT berada di angka 20 persen, dan sisanya merupakan bentuk kekerasan lain yang terjadi di berbagai lingkungan.

Lebih lanjut, Hartono menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak paling banyak terjadi di sekolah. Korban tidak hanya mengalami kekerasan dari teman sebaya, tetapi juga dalam relasi pacaran remaja hingga melibatkan tenaga pendidik. Adapun kasus kekerasan dalam rumah tangga umumnya terjadi di lingkup pasangan suami istri.

“Kekerasan anak itu ada di sekolah, rata-rata sekolah yang kita dampingi, pelaku ada dari temen, pacaran (anak-anak remaja SMP-SMA), tenaga pendidik ada. Yang kita dampingi selain korban ada saksi, kalau pelaku lain lagi, itu ranah Bapas (Balai Pemasyarakatan),” tuturnya.

Selain memberikan pendampingan kepada korban, UPTD PPA juga menangani saksi pelapor. Tidak sedikit laporan datang dari saksi kasus perkelahian maupun dugaan pelecehan seksual yang melibatkan anak.

“Anak sebagai saksi berkelahi dan pelecehan seksual yang banyak, bahkan datanya lumayan, biasanya lebih dari satu. Mudah-mudahan harapan dari UPTD masyarakat tahu kalau ada kekerasan gimana langkahnya, kemana lapornya harus tahu,” paparnya.

Baca Juga: Libatkan UMKM, SPPG Winong 1 Bagikan Menu MBG ke Warga 

Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan menangani kasus kekerasan di wilayah Kabupaten Pati, UPTD PPA Dinsos P3AKB terus berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Penanganan kasus dilakukan bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH), kepolisian, serta instansi terkait lainnya hingga proses pendampingan dan penanganan dinyatakan tuntas.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER