BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus membuka lowongan pekerjaan bagi warganya untuk bekerja di Jepang. Gaji yang ditawarkan cukup menggiurkan yakni minimal 180 ribu Yen atau kurang lebih Rp19 juta per bulan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkop dan UKM), Rini Kartika Hadi Ahmawati, menyampaikan, Pemkab Kudus telah menjalin kerja sama dengan Indonesia-Japan Business Network (IJBnet) untuk program pengiriman tenaga kerja ke Negeri Sakura.
“Program ini merupakan salah satu upaya mengurangi angka pengangguran di Kota Kretek,” ujar Rini melalui sambungan telepon, Selasa (9/1/2024).
Baca juga: Kurangi Pengangguran, Bergas Akan Kerja Sama dengan Jepang untuk Kirim Tenaga Kerja
Untuk pendaftaran, lanjut Rini, dilakukan selama dua hari yakni pada 9 dan 10 Januari 2024 di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus. Setelah itu dilakukan pelatihan bahasa Jepang selama 5-6 bulan. Dalam tempo tersebut harus lulus A2/N4 dan SSW bidang terkait.
“Untuk tes wawancara dan penempatan kerja nanti difasilitasi dan dilakukan langsung oleh pihak IJBnet. Dan, program ini gratis, sejak awal pendaftaran, pelatihan bahasa hingga berangkat ke Jepang untuk bekerja,” bebernya.
Sementara untuk persyaratannya, ungkap Rini, harus warga Kudus dengan minimal pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan atau sederajatnya. Syarat khusus lainnya, berat badan proposional, tidak punya riwayat penyakit, tidak buta warna dan tidak bertato, enerjik dan semangat dan tidak pindah kerja selama 3 tahun.
Baca juga: Ironis, Lulusan Perguruan Tinggi Paling Banyak Jadi Pengangguran di Kudus
“Lowongan pekerjaan ke Jepang ini tidak memandang gender jadi bisa untuk laki-laki dan perempuan. Dengan syarat usia 18-29 tahun,” Jelasnya.
Rini mengatakan, ada beberapa penempatan bidang pekerjaan di Jepang, antara lain pertanian, peternakan, pengolahan makanan dan minuman.
“Harapannya program ini berhasil, banyak warga Kudus yang daftar dan bisa bekerja ke Jepang. Sehingga memang bisa mengurangi angka pengangguran,” harapnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

