BETANEWS.ID, KUDUS – Tampak beberapa orang melintas di jembatan apung yang bercat merah, kuning dan biru yang berada di Sungai Wulan. Jembatan apung yang dinamakan ‘Sambung Sambung Roso’ itu, menghubungkan Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kudus dan Desa Sambung, Kecamatan Gajah, Demak.
Pengelola Jembatan Sambung Sambung Roso yakni Sutarno mengatakan, jembatan itu mulai dibangun sejak awal Januari 2023. Hingga saat ini, progres pembangunannya sudah mencapai 95 persen untuk jembatan dan 70 persen untuk akses jalan.
Baca juga: Pembangunan Jembatan Apung Setrokalangan Diklaim Telan Dana Hingga Rp 500 Juta
Menurutnya, pembangunan jembatan itu ada investornya yang menanggung biaya pembangunan di sana. Investor itu tak lain adalah investor yang sama dalam pembangunan jembatan apung lainnya yang berada di Setrokalangan dan Kedungwaru.
“Ini ada investornya yang berasal dari Brebes. Investor itu juga pernah bangun jembangan apung yang ada di Setrokalangan dan Kedungwaru,” beber pria yang akrab disapa Tarno kepada Betanews.id, Jumat (27/1/2023).
Ia menjelaskan, jembatan tersebut dibangun dengan panjang 90 meter dan lebar 2,5 meter. Sementara untuk bahan yang digunakan dalam jembatan itu adalah kayu mahoni yang mampu bertahan hingga 5 tahun.
“Untuk jembatannya ini bisa dibuat papasan dua motor. Nantinya untuk tarif setiap kali melewati jembatan ini Rp 2 ribu per motor,” ungkapnya.
Ia menuturkan, sebelum dibangunnya jembatan itu, pihaknya dulu juga menyediakan perahu eret untuk membantu warga menyebrangi Sungai Wulan. Lantaran ada investor yang ingin membangunkan jembatan itu, kemudian pihaknya menyetujui, karena bisa memudahkan pekerjaan.
Baca juga: Jembatan Apung Setrokalangan Resmi Beroperasi, Tarifnya Rp 2 Ribu Sekali Lewat
“Ya memilih yang lebih efektif saja, karena juga memudahkan dalam kerjaan. Nantinya untuk pembagian hasilnya setengahan, 50 persen untuk investor dan 50 persen untuk pengelola,” terang pria yang tercatat sebagai warga Desa Sambung RT 2 RW 4, Kecamatan Undaan, Kudus tersebut.
Ia menambahkan, target yang melewati jembatan itu setiap harinya sekitar antar 300 sampai 400 orang. Itu terdiri dari warga Kabupaten Demak maupun Kabupaten Kudus.
Editor: Kholistiono

