BETANEWS.ID, KUDUS – Rehan (40) tampak memasukkan cabai hijau, bawang putih, bawang merah, dan garam ke dalam cobek untuk dihaluskan. Setelah bumbu halus, ia berganti memotong beberapa tahu sumedang ke dalam gelas plastik. Kemudian ia masukkan bumbu halus dan air gula asam untuk disiram pada potongan tahu Sumedang yang lantas diberikan pada pembeli.
Siang itu, lapaknya yang berada di Jalan Lingkar Utara, Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus memang ramai oleh pembeli. Beberapa pengendara terlihat mampir untuk mencicipi tahu gejrot maupun aneka gorengan lainnya.

Saat ditemui, Rehan bersedia berbagai cerita tentang usahanya itu. Ia mengaku sudah sejak tiga tahun lalu berjualan tahu sumedang dan aneka gorengan lainnya di Kudus. Kemudian ia baru menambahkan menu baru berupa tahu gejrot beberapa bulan terakhir.
Baca juga: Jualan Roti Babak Belur, Usaha Sogor Selamatkan Keuangan Keluarga Hariyono
“Sebelumnya jualan di Malang tapi karena pabrik tahu sumedang yang di sana bangkrut, jadi pindah ikut ke Kudus,” terang warga Asli Sumedang itu, Kamis (29/9/2022).
Sudah sejak 2012 ia berjualan tahu sumedang mengikuti jejak sang ayah. Keputusan itu diambil karena pada pekerjaan sebelumnya sebagai kuli bangunan, ia kerap tidak digaji dengan jumlah yang seharusnya. Hal tersebut lantaran mandor yang diikutinya tidak jujur dan sering menahan uang pekerja.
“Sejak 2012 itu ia sering pindah tempat ke berbagai daerah mengikuti pabrik tahu sumedeng, mulai dari Semarang, Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, Kendiri, Tulungagung, hingga Sidoarjo,” beber dia.
Selama berjualan tahu sumdeng dirinya menyebut banyak suka duka yang menyertai. Salah satunya ketika pandemi covid-19 ia harus rela pindah ke Kudus karena bosnya di Malang bangkrut.
Tak hanya itu, setelah di Kudus, ia kembali merasakan sulitnya berjualan gorengan di tengah kenaikan harga minyak goreng. Bahkan ia sempat tidak berjualan selama dua minggu karena langkanya minyak pada saat itu. Untuk mencari uang, ia harus bekerja sebagai kuli.
Baca juga: Bisnis Minuman Kekinian Antarkan Idris Punya 4 Outlet Segara, Omzetnya Bikin Iri
“Banyak yang dilalui penjual seperti saya, paling sulit adalah menaikkan harga jual. Pernah coba dinaikkan tapi penjualan turun dan pada pergi,” beber Rehan.
Kini, Rehan mengaku memilih mengambil keuntungan sedikit dan penjualan lancar daripada menaikkan harga tetapi pembeli pergi. Menurutnya, langkah itu adalah jalan terbaik untuk bertahan pada kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Lapak Tahu Sambal Gejrot Sumedang dan Tahu Sumedang itu, buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Untuk harga, satu porsi tahu gejrot Rp10 ribu, tahu Sumedang Rp10 ribu isi 12 tahu, untuk tahu aci dan tahu susur Rp5 ribu dapat 4 biji tahu, kemudian pisang kipas Rp5 ribu dapat 2 biji pisang.
“Harapannya selain penjualan kembali membaik, pelanggan semakin banyak, semoga harga bahan baku juga kembali turun,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

