Sulit Cari Kerja Karena Buta Warna, Puput Pantang Menyerah dan Kini Sukses dengan Budidaya Jamur

BETANEWS.ID, MAGELANG – Kesuksesan yang diraih Puput Setyoko dalam mengembangkan budidaya Jamur Borobudur tak diperoleh dengan mudah. Banyak proses yang harus dilalui oleh pria 31 tahun itu, untuk sukses dalam budidaya dan olahan jamur.

Puput Setyoko menceritakan, awal mula memiliki ide untuk mengembangkan jamur berawal dari ketidaksengajaan. Awalnya, ia yang divonis buta warna dan tidak bisa membedakan warna, mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Namun siapa sangka, berawal dari kesulitan itu, kini ia sukses dalam mengembangkan usaha jamur.

Rumah Jamur Borobudur. Foto: Budi Prasetyo.

Baca juga: Modal Rp1 Juta, Dyah Kini Bisa Kantongi Minimal Rp50 Ribu Sehari dari Jamur Tiram

-Advertisement-

“Usaha jamur itu pertama kalinya karena kepepet. Waktu itu saya buta warna dan kalau masuk pekerjaan harus membedakan warna. Dan saya tidak lolos, padahal saya dulu cuma lulusan SMK. Kalau lulusan SKM pengennya kerja di pabrik, tapi ternyata saya punya kekurangan itu, akhirnya saya tidak bisa bekerja,” jelas Puput.

Waktu itu, ia kebingunan untuk menentukan usaha yang harus dikerjakan. Berawal dari kesukaanya terhadap jamur, ia mulai mencari tahu, jamur dibikin dari apa dan bagaimana caranya.

“Waktu itu setahu saya jamur tumbunya dari pohon-pohon, terus nyari di hutan dan dijual, ternyata tidak seperti itu. Mulai dari situ, saya mulai serius menekuni usaha jamur,” jelasnya.

Dirinya mulai belajar tentang jamur hingga ke Temanggung, Jogja dengan orang yang sudah terlebih dahulu menekuni budidaya jamur. Ia mulai mempelajari tentang jamur sejak 2013 dan saat ini mencapai kesuksesan.

Diceritakannnya, untuk budidaya jamur, banyak kesulitan yang harus dihadapi. Namun, berkat kesabaran dan keuletannya membuahkan hasil.

Baca juga: Gagal Berulang hingga Habiskan 1 Kuintal Jagung, Iringi Harmoko Rintis Pembibitan Jamur

“Sebetulnya kita langsung ketemu kesulitan semua. Dari budidayanya, mungkin ada hama proses pembuatan media yang kurang sempurna, dari SDM yang dulunya belajar dari nol. Dari situ kegagalan banyak sekali, tapi kita selalu belajar dari pengalaman yang sudah-sudah,” jelasnya.

Dari kegagalan-kegagalan itulah, ia terus belajar tentang prosesnya yang benar seperti apa hingga berhasil. Belajar, bukan hanya dari budidaya saja melainkan ke pengolahan juga.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER