BETANEWS, KUDUS – Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar berkumandang. Muhammad Ulin Nuha (28), yang berjualan Papeda Telur Puyuh terlihat hendak bersiap pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah salat Jumat, usai melayani pembeli. Saat ditemui betanews.id, laki-laki yang akrab disapa Ulin itu membagikan pengalamannya berjualan Papeda.
Sebelum mengkal di depan Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Banat, Ulin mengaku pernah diusir oleh penjual lain saat berniat menetap di depan SMK 1 Kudus. Ia kemudian beralih tempat dan terhitung empat tahun sudah, ia berjualan Papeda di Jalan KHM Arwani Amin, Desa Krandon, Kecamatan Kudus, Kabupaten Kudus.

Baca juga: Kisah Pipit Rintis Bisnis Cokelat Karakter yang Kini Suplai 50 Toko dan Minimarket di 7 Daerah
“Pertama mangkal di depan SMK 1 Kudus, baru satu hari diusir penjual di situ. Sekarang sudah aman di sini,” kata Ulin pada Jumat (8/7/2022).
Pemuda asal Pati ini menceritakan, berkat menjual Papeda Telur Puyuh, ia bisa punya tabungan untuk nikah dan membeli sepeda motor. Pernikahannya kini usianya baru setahun dan kini istrinya sedang mengandung buah hati pertamanya.
Ulin menuturkan, sebelumnya ia ikut berjualan orang lain. Namun, karena ingin mandiri akhirnya ia beranikan diri untuk merintis berjualan Papeda Telur Puyuh. Ia menjual Papeda Telur Puyuh dengan harga yang bervariasi.
“Untuk Papeda original, ia hargai Rp 1.500, Papeda dengan satu telur puyuh harga Rp 2 ribu, Papeda dua telur puyuh seharga Rp 2.500, dan Papeda tanpa bumbu abon bawang ia hargai Rp2 ribu,” sebutnya.
Baca juga: Kisah Owner Treend Steak, dari Gagal Berkali-kali Hingga Sukses Punya 7 Cabang
Berkat jerih payahnya menjajakan Papeda Telur Puyuh mulai pukul 10.00-17.00 WIB, Ulin bisa mendapatkan penghasilan Rp 700 ribu setiap harinya. Sedangkan untuk keuntungannya, sekitar 50 persen dari hasil penjualan.
“Omzetnya sehari bisa Rp700 ribu, itu baru kotornya. Kalau untungnya bisa sampai 50 persen,” katanya.
Editor : Kholistiono

