31 C
Kudus
Kamis, Februari 26, 2026

Kisah Hari, Satu-satunya Produsen Kompyang di Solo yang Masih Eksis Hingga Kini

BETANEWS.ID, SOLO – Salah satu kuliner khas Solo yag cukup legendaris adalah Kompyang. Yakni, jajanan roti yang mirip dengan burger, namun, Kompyang memiliki tekstur yang keras. Kuliner ini, dulunya merupakan makanan khas dari Tionghoa.

Untuk proses pembuatan Kompyang, masih dilakukan secara tradisional. Karena prosesnya itu, seirig berjalannya waktu produsen kue satu ini semakin jarang. Bahkan di Kota Solo, hanya tinggal satu saja produsen yang masih eksis hingga saat ini.

Adalah Hari Haryono (52) yang hingga saat ini masih setia dengan usahanya itu. Kepada Betanews.id, Hari mengatakan, bahwa usaha itu ia teruskan dari sang ibu yang sudah meninggal.

-Advertisement-
Hari saat membuat kue Kompyang. Foto: Khalim Mahfur.

Baca juga : Melihat Produksi Kompyang, Burger Jawa yang Diproduksi Mulai Dini Hari

“Pada saat sekitar tahun 1960 sampai 1970 itu banyak yang buat (Kompyang) di sekitar Solo. Tapi mulai 1975, tinggal ibu saya yang membuat Kompyang. Sampai sekarang, saya meneruskan dari tahun 2010, terus saya generasi kedua dari ibu saya,” ujarnya, Rabu (20/4/2022).

Pada saat ibunya memulai usaha itu, Hari masih berusia lima tahun. Sebelum sang ibu, sang paman lah yang awalmya memproduksi Kompyang. Namun, karena pada saat itu kondisi perekonomian sang paman menurun, akhirnya ibunya lah yang berhasil melanjutkan usaha Kompyang ini.

“Saya dulu juga nggak mau (menekuni bisnis Kompyang), biasa ya, kerja kantoran, saya kan dulu manajer di leasing. Cuman siapa lagi yang mau meneruskan, apalagi saya anak laki-laki satu-satunya, saudara saya di Jakarta semua. Terus akhirnya saya yang terjun. Awalnya saya tidak mau, tapi karena orang tua yang minta, ya ada rezekinya juga,” ujarnya.

Alasan mengapa sudah tidak ada selain Hari yang memproduksi makanan satu ini adalah lantaran proses pembutannya yang hanya bisa dimasak dengan menggunakan proses tradisonal. Yakni dengan menggunnakan tungku berukuran besar dan tidak bisa dibuat menggunakan oven.

Namun, karena hanya bisa dimasak dengan proses tradisional, menurut Hari, malah bisa menjadikan Kompyang yang ia buat menjadi semakin eksis dan lebih menguntungkannya. Berbeda dengan bisnis roti pada umumnya yang saat sudah kedaluwarsa. Biasanya pihak produsen roti harus menarik kembali roti yang sudah diedarkan ke warung warung, namun berbeda halnya dengan Kompyang.

“Justru kenapa kita masih tradisional tapi bisa eksis, itu justru karena manual itu. Karena kita pakai tungku, kalau kita pakai oven nanti jadinya sama dengan yang lain,” ungkapnya.

Kini, Hari masih terus melanjutkna usaha keluarganya itu dengan dibantu empat karyawannya. Ia memasok permintaan Kompyang di seluruh wiayah Solo. Usahanya berjalan mulus, bahkan saat puncak pandmei Covid-19, ia masih memproduksi Kompyang seperti biasa.

Namun yang ia keluhkan adalah naiknnya seluruh harga sembako saat ini. Karenanya, ia harus menaikkan harga, agar pemasukan dan pengeluarannya untuk memproduksi Kompyang bisa seimbang.

Baca juga : Di Balik Kisah Bubur Bakar Badran yang Lagi Hits di Solo, Ternyata Ada Tujuan Sosial dari Pemiliknya

“Kalau pandemi kita malah nggak pengaruh. Cuman sekarang ini harga-harga harga naiknya minta ampun. Karena itu, harga saya naikkan, Kalau kemarin Rp1 ribu, sekarang jadi Rp 1.250. Sekarang ini yang untuk pembeli harganya sudah Rp 1.500. Kalau dulu itu saya beli gandum itu Rp140 ribu, sekarang jadi Rp190 ribu satu sak, naiknya Rp50 ribu. Wijen itu dari Rp 600 ribu, sekarang Rp1 juta,” ujarnya.

Ke depan, ia mengaku tidak tahu siapa yang akan meneruskan jejaknya dalam membut Kompyang. Ketiga anaknya memiliki riwayat pendidikan yang bertolak belakang dengan bisnis Kompyang.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER