Deburan ombak pesisir pantai utara sore itu makin besar dan intens menghantam rumah-rumah yang ada Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Bahkan ribuan pohon mangrove yang ditanam seolah belum mampu menahan ganasnya terjangan ombak. Warga setempat selalu dilanda keresahan, bahaya abrasi yang siap menenggalamkan desa mereka setiap saat.

Ditemui di rumahnya, tokoh masyarakat Desa Bedono, yakni Sayidi menuturkan, pada tahun 1980 keadaan desanya belum seperti sekarang. Dulu di sekeliling desanya adalah hamparan sawah lebih dari ribuan hektar. Para menggantungkan hidup sebagai petani.
“Sejak tahun 1997 desa kami mulai tekena abrasi. Keadaannya pun sekarang berubah. Ribuan hektare sawah sudah tenggelam oleh air laut. Bahkan kalau tidak ditangani dengan serius, desa dan tempat tinggal kami pun hanya menunggu waktu untuk dilahap oleh ganasnya abrasi Pantai Utara,” ujar Sayidi kepada Tim Liputan Khusus Betanews.
Sambil menunjukan peta, abrasi yang terjadi di pesisir khususnya di desanya sudah sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, setiap tahun terjadi penurunan permukaan tanah, serta naiknya air laut. Bahkan beberapa warga termasuk dirinya harus menaikan lantai rumahnya hingga beberapa kali agar tidak terendam air laut.
Kami para pria pada musim penghujan tidak pernah tidur. Kami berjaga-jaga mengawasi situasi
Sayidi, tokoh Desa Bedono
“Agar tak terendam air laut, lantai rumah saya ini sudah ditinggikan beberapa kali. Kalau dikalkulasi di desa kami itu terjadi penurunan tanah sekitar 10 sentimeter pertahunnya,” bebernya.
Dia menuturkan, sebenarnya selama ini warga tidak berpangku tangan dalam menghadapi ancaman abrasi. Untuk mencegah abrasi warga secara rutin menanam pohon mangrove sebagai upaya menahan ganasnya ombak pantai utara jawa. Namun, hal tersebut tak berdampak siginifikan. Sebab saat terjadi banjir rob, desa dan rumah warga pun tetap terendam.
“Saat terjadi banjir rob ratusan rumah di desa kami banyak yang tenggelam. Akses jalan juga banyak yang terputus,” ungkapnya.
Tidak hanya itu saja, kata dia, kesengsaraan warga Desa Bedono akan makin bertambah, saat datang musim penghujan. Tepatnya saat memasuki Bulan Desember dan Januari. Di dua bulan tersebut, tuturnya selain banjir rob, penduduk Desa Bedono dihantui oleh badai dan gelombang. Yang siap merusak bahkan merubuhkan rumah warga.
Hal tersebut terjadi karena dibagian barat desa tidak ada talut atau tanggul sebagai pelindung desa. Sehingga ombak langsung menerjang rumah warga, yang mengakibatkan banyak rumah yang rusak berat dan hancur total.
“Pada Bulan Desember tahun lalu ada 35 rumah rusak karena badai gelombang. Serta ada tiga rumah hancur karena puting beliung,” keluhnya.






