Sayidi, tokoh Desa Bedono. Foto: Kaerul Umam

Dia mengatakan, setiap memasuki Desember dia dan beberapa warga tidak pernah tidur di malam hari. Dia berjaga dan mengamati situasi. Jika terjadi ombak besar, rumah-rumah yang mungkin akan rusak bahkan rubuh dihantam ombak, pemiliknya diimbau untuk mengungsi terlebih dulu.

“Kami para pria pada musim penghujan tidak pernah tidur. Kami berjaga-jaga mengawasi situasi. Takut ada badai menghantam rumah kami. Keluarga kami yang dirumah juga resah dan tidak bisa tidur nyenyak. Karena bahaya badai mengancam rumah dan nyawa kami,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sebenarnya warga di desanya dulu berharap tol Semarang-Demak yang dibangun itu melewati sisi luar desanya. Sebab dia mendengar informasi, tol tersebut selain ditujukan untuk mengurai kemacetan juga sebagai tanggul laut. Dia pun sudah melihat dampak desa-desa yang kini terlindungi oleh tol tesebut.

“Pembangunan tol Semarang-Demak yang meilntasi pesisir Sayung sekarang sudah terasa dampaknya bagi desa yang dilewati. Dulu banjir rob juga sering melanda desa-desa yang dilintasi. Namun, sekarang desa tersebut sudah terlindungi dan aman dari banjir rob,” ungkap Sayidi.

Dia berharap ada penanganan serius dari pemerintah dalam penanganan abrasi di pesisir pesisir utara, khususnya di desanya. Ia dan warga lain berharap dibangunkan tanggul laut di desanya. Sebab, tanggul laut bisa menghambat arus air hingga perkampungan.

- advertisement -

“Kami mohon tanggul laut sebagai pelindung desa kami bisa dipikirkan oleh pemerintah. Jika tidak ada tanggul laut, lambat laun desa dan tempat tinggal kami pun terancam hilang dilahap abrasi,” ujarnya.


Tim Liputan: Dafi Yusuf, Ahmad Rosyidi, Rabu Sipan, Kaerul Umam (Reporter, Videografer). Suwoko (Editor Berita). Andi Sugiarto (Editor Video). Manarul Hidayat (Desain Grafis), Lisa Mayna Wulandari (Transkip dan Terjemah).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini