BETANEWS.ID, KUDUS – Cuaca siang itu terasa terik saat berada di dalam green house di RT 01, RW 06 Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Cuaca itu tak menyurutkan seorang pria untuk beraktivitas di dalam bangunan berdinding dan beratap plastik transparan tersebut. Pria tersebut yakni Wisnu Roy Noor Aan (28) seorang guru yang punya usaha sampingan tanaman mint.
Pria yang akrab disapa Wisnu tersebut terlihat mengambil beberapa pot plastik berwarna hitam. Pot-pot tersebut kemudian diisi dengan media tanam kompos yang bercampur sekam. Saat semua pot sudah terisi semua, kemudian disiram. Ia pun lalu memotong beberapa bagian batang tanaman mint, terus ditanam di pot yang sudah terisi media tanam tersebut.

Di sela aktiivitasnya, Wisnu pun sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai menanam tanaman mint sejak 2016. Menurutnya, bercocok tanam merupakan hobinya. Oleh sebab itu, setelah lulus kuliah jurusan kelistrikan dan kemudian bekerja jadi guru, ia tetap menekuni kegemarannya dengan bercocok tanam. Menurutnya, memilih tanaman mint sebab prospeknya bagus.
Baca juga: Kisah Sukses Harsono Bertani Porang yang Mampu Hasilkan Rp 800 Juta Tiap Panen
“Di zaman sekarang itu banyak orang yang suka dengan sesuatu yang alami dan herbal. Oleh sebab itu saya mengembangkan tanaman mint secara organik, tanpa pestisida kimia, dan pupuk kimia. Benar saja, peminat tanaman mint saya, yang dikenal bisa dijadikan beberapa produk pun laris manis,” ujar Wisnu kepada Betanews.id, Selasa (16/3/2021).
Pria yang memanfaatkan sebagian halaman rumahnya sebagai lokasi green house tersebut mengungkapkan, pada awalnya hanya menanam tanaman mint jenis biasa atau common mint. Karena peminatnya banyak, setahun setelahnya ia pun menanam jenis lainnya. Antara lain, pine aplle mint, orange mint, coklat mint, apel mint berries cream mint, sweet mint, penny royal mint, ginger mint, pepper mint, lemon mint, montain mint, spear mint, mentol mint.
“Total ada sekitar 14 jenis tanaman mint yang saya tanam. Dengan kisaran harga jual mulai Rp 5 ribu sampai ratusan ribu per pot, tergantung jenis tanaman mint tersebut,” beber pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut.
Dia mengaku, menjual aneka jenis tanaman mint melalui media daring dan secara offline. Menurutnya, peminatnya lumayan banyak. Saat sepi saja, dalam sebulan ia bisa menjual minimal 50 pot tanaman mint. Kalau ramai ia bisa menjual ratusan pot. Bahkan saat pandemi tanaman mint laris manis.
Baca juga: Lagi Hits, Tanaman Keladi di Kembar Florist Dijual Mulai Rp 10 Ribu
“Pada masa pandemi penjualan tanaman mint meningkat drastis. Peminatnya pun hampir seluruh negeri. Saya sudah mengirim tanaman mint ke kota-kota besar di Indonesia,” ucapnya.
Dia menuturkan, selain menjual tanaman, ia juga menjual daun mint segar dan kering. Menurutnya, usaha sampingan tanaman mint tersebut sangat menguntungkan. Bahkan hasilnya, lebih besar dari gaji pekerjaan utamanya. Dia berharap ke depan bisa membuat aneka produk herbal yang bermanfaat untuk manusia.
“Harapan saya kelak bisa produksi produk herbal. Bisa berupa minuman, sabun, pasta gigi, atau juga produk kecantikan,” tukas Wisnu.
Editor: Ahmad Muhlisin

