Sebuah sepanduk bertuliskan Sate Ayam Khas Kudus Cita Rasa Bumbu Serundeng dan papan menu Obong Satay tampak di sebuah gerobak di Desa Loram Wetan, Kudus. Gerobak itu tak lain milik Dwi Rahmawati (21), perempuan muda yang sudah satu tahun terakhir menekuni usaha kuliner obong satay.
Meski usianya masih muda, perempuan yang akrab disapa Dwi itu, sejatinya tengah meneruskan jejak tradisi keluarga. Ia bercerita, bahwa neneknya dulu pernah berjualan sate kerbau. Dari pengalaman itulah, Dwi terinspirasi menghadirkan cita rasa sate khas Kudus dalam versi yang lebih terjangkau.
“Kami modifikasi. Bahannya diganti ayam, tapi bumbunya tetap pakai serundeng khas Kudus,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca juga: Awalnya Ikut-Ikutan, Aji Kini Punya 5 Cabang Gorengan Khas Cirebon di Pati
Menurutnya, sensasi rasanya tetap menyerupai sate kerbau, hanya saja lebih ramah di kantong. Ciri utama obong satay racikan Dwi terletak pada bumbu serundeng yang disangrai hingga harum, lalu dipadukan dengan manis gurih bumbu kacang khas Kudus.
“Serundeng inilah yang menjadi pembeda utama dari sate ayam pada umumnya. Harganya Rp18 ribu per porsi, isinya 10 tusuk,” benernya.
Lapak Obong Satay buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Dalam sehari, Dwi menghabisakan sekitar 3 kilogram daging ayam untuk memenuhi permintaan pembeli.
Baca juga: Kisah Sarjono, Mantan Guru yang Banting Setir Jual Nasi Tumpang
Tak hanya melayani pembelian langsung, Obong Satay juga bisa dipesan secara online.
“Kami ada di GrabFood, ShopeeFood, dan online shop, jadi bisa pesan dari rumah,” tambah Dwi.
Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Suwoko

