Gunakan Pewarna Alami dan Corak Lokal Jadi Cara April Kenalkan Batik Khas Jepara 

BETANEWS.ID, JEPARA – 28 tahun menggeluti dunia batik, April Puji Astuti, perempuan berusia 46 tahun yang tinggal bersama suami dan tiga orang anaknya di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara memiliki cara tersendiri untuk mengenalkan batik khas kota ukir. 

April yang saat ini mengajar sebagai salah satu guru di SMK Walisongo Pecangaan bercerita setiap motif atau design batik yang ia buat, ia selalu menggoreskan kearifan lokal. Motif yang tidak akan pernah ia tinggal yaitu ukir. Sebab, bagi masyarakat Jepara, ukir merupakan identitas. 

Baca Juga: Berawal dari Teras Rumah, Batik Stilir Jepara Mampu Tembus Pasar Luar Negeri

-Advertisement-

“Saya selalu menyelipkan motif ukir. Ini yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Jepara. Bahkan jika saya membuat motif Tegalsambi, Perang Obor juga saya berikan sentuhan motif ukir. Termasuk batik corak pertanian, juga saya beri ukir,” katanya saat ditemui di kediamannya, Kamis (2/10/2025). 

Karena tinggal di wilayah pedesaan, April mengaku senang membuat motif atau corak yang menggambarkan potensi lokal di daerahnya. 

Selain motif Perang Obor yang menjadi warisan budaya di Desa Tegalsambi, April juga pernah membuat batik yang terinspirasi dari Memeden Gadu, sebuah tradisi para petani di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri. 

Bagi April, membuat batik dengan corak budaya lokal bukan hanya sebagai cara menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi branding untuk mengenalkan produk yang ia buat. 

Hal tersebut juga selalu April tekankan pada saat dirinya mengisi pelatihan membatik di berbagai daerah. 

“Menggali kekayaan kultural di daerah setempat itu juga menjadi cara yang kuat untuk membranding produk kita. Saya sering melatih membatik dari desa ke desa, UMKM, hingga ke luar daerah,” ujarnya. 

Sedangkan untuk pewarnaan, April fokus untuk pemakaian pewarna alami. Bahan pewarna alami yang ia pilih diantaranya yaitu kayu mahoni, daun mangga, buah mangrove, indigofera, ataupun kayu tinggi dan buah jolawe. 

“Termasuk secang dan daun jati. Apalagi suami saya nggarap mebel, limbahnya seperti dari kayu mahoni bisa dijadikan pewarna alami. Karena konsern warna yang saya tekuni memang pewarna alami,” bebernya. 

Sementara untuk masalah harga, April mengatakan harga batik Jepara memang cukup mahal. Tapi dari segi kualitas menurutnya bisa diuji. 

Di Batik Stilir buatannya, April menyedikan batik yang dibuat dengan beberapa teknik. Seperti batik cap, batik tulis, ecoprint, dan ke depan ia juga berencana untuk membuat batik tulis. 

Baca Juga: Modal Coba-coba, Bisnis Box Seserahan Milik Khamdi Jepara Cuannya Menguntungkan

Untuk batik cap, April membandrol harga Rp130-200 ribu per lembar kain batik dengan ukuran 2 meter. Sementara batik tulis sekitar Rp500 ribu per lembar.  

“Kadang orang datang dengan membawa budget yang sudah dibatasi. Saya tidak menolak berapapun itu, asalkan masih bisa untuk produksi dan mereka yang datang tidak kecewa. Saya menyesuaikan budget mereka,” ujarnya. 

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER