Berawal dari Teras Rumah, Batik Stilir Jepara Mampu Tembus Pasar Luar Negeri

BETANEWS.ID, JEPARA – Tiga orang ibu-ibu dan empat remaja tampak telaten mewarnai pola batik yang sudah digambar dalam selembar kain. Sambil bercengkrama, selembar kain yang tadinya berwarna putih polos, tak sampai satu jam sudah berubah warna sesuai pesanan pembeli.

Mereka mengerjakan lembar demi lembar kain di depan teras rumah milik April Puji Astuti (46), Warga Desa Geneng RT 7 RW 1, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.

Baca Juga: Pemkab Jepara Janjikan Krisis Air di Kedungmalang Segera Teratasi dalam Waktu Sebulan 

-Advertisement-

Sembari memantau hasil pewarnaan kain batik, April pemilik Rumah Kreatif Batik Stilir Jepara bercerita usaha tersebut pertama kali ia tekuni pada tahun 2013 lalu.

Saat itu, ia baru saja memenangkan lomba batik tingkat internasional yang diselenggarakan di Yogyakarta. Batik karyanya yang terinspirasi dari bencana gempa bumi yang terjadi di Kota Padang, Sumatera Barat pada tahun 2009 mampu mengantarkan April meraih juara.

“Dari pengalaman lomba itu, akhirnya 2013 saya memberanikan diri mendirikan Batik Stilir. Karena saat itu, karya yang sama itu juga saya ikutkan lomba di Jepara tapi kalah. Akhirnya saya dapat informasi ada lomba tingkat internasional di Yogyakarta, dan alhamdulillah malah dapat juara,” tutur April saat ditemui di kediamannya pada Kamis, (2/10/2025).

Pengalamannya mengikuti perlombaan yang cukup membekas bagi April, akhirnya juga mendorong ia untuk membuat workshop dan pelatihan membatik. Pesertanya tidak hanya anak-anak muda ataupun pelajar, tetapi juga warga sekitar rumahnya yang didominasi oleh ibu rumah tangga.

April juga mengembangkan usaha produksi kain batik berupa batik tulis dan batik cap. Total terdapat sekitar enam orang yang saat ini membantunya untuk menyelesaikan pesanan kain batik.

“Total ini dibantu enam orang dan untuk yang cap itu dibawa pulang dan yang bantu juga tetangga sekitar,” katanya.

Meskipun masih skala rumahan, April mengatakan karya batik buatannya tidak hanya diminati pembeli di sekitar Kabupaten Jepara. Tetapi banyak juga yang berasal dari luar Jawa bahkan ada yang dari luar negeri.

“Pembelinya memang paling banyak instansi dari Kabupaten Jepara sendiri. Tapi ada juga yang dari luar Jawa, luar negeri juga ada, dari Taiwan,” ungkapnya.

Untuk harga, April mematok satu lembar kain batik cap dengan harga mulai dari Rp130-200 ribu. Sedangkan untuk batik tulis sekitar Rp500 ribu per lembar.

“Selain batik, ada juga ecoprint dan ke depan saya berencana mengembangkan batik lukis,” ujarnya.

Baca Juga: Mulai 1 Oktober, Jam Kerja ASN Jepara Alami Perubahan 

Sebagai salah satu perajin batik di Jepara, April berharap agar masyarakat Jepara banyak yang menyadari bahwa Kabupaten Jepara juga memiliki batik khasnya sendiri. Sehingga, masyarakat apabila ingin mengenakan kain batik, tidak membeli dari luar, tetapi mengenakan batik buatan asli Jepara.

“Harapannya masyarakat sekitar semakin tahu batik Jepara dan sadar Jepara juga punya batik dan saya memakainya harus batik Jepara, tidak beli ke toko yang lain,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER