Masjid Baiturrahman, Masjid Megah Berarsitektur Gotik Khas Eropa di Soneyan Pati

BETANEWS.ID, PATI – Sebuah masjid yang berada di Dukuh Kedungpanjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, memiliki gaya bangunan yang unik. Memiliki tampilan bangunan yang klasik nan megah, masjid bernama Baiturrahman tersebut, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Berbeda dengan masjid-masjid lainnya di Pati dan Indonesia pada umumnya, yang kebanyakan berarsitektur Timur Tengah atau Jawa, masjid di Pati bagian Utara ini bertemakan gaya arsitektur Gotik khas Eropa.

Masjid Baiturahman, Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Margoyoso, Pati yang berarsitektur gotik khas Eropa. Foto: Kholistiono

Istilah Gotik ini sendiri lahir pada masa renaisanse untuk menyebut akhir dari abad pertengahan. Dalam arsitektur sendiri, desain Gotik banyak digunakan pada bangunan yang dibangun selama abad pertengahan tengah hingga akhir.

-Advertisement-

Baca juga: Viral Masjid di Mulyoharjo Jepara, Bangunannya Menyerupai Ka’bah

Gaya ini berevolusi dari arsitektur Romanesque dan diteruskan oleh arsitektur Renaisans. Salah satu bangunan yang banyak menggunakan desain Gotik pada saat itu adalah katedral.

Jika berkesempatan langsung mengunjungi Masjid Baiturrahman, warga akan dibuat takjub desain masjid yang sudah memasuki pengerjaan enam tahun ini. Ornamen-ornamen khas arsitektur Gotik menghiasi sudut-sudut masjid.

Kubahnya juga tak seperti masjid pada umumnya, kubah Masjid Baiturrahman yang tak begitu besar diapit dua menara yang berbentuk limas segi empat khas arsitektur Gotik. Di atas menara dan kubah masjid terdapat lafadz Allah sebagai penanda bahwa bangunan itu merupakan masjid.

Bendahara Masjid Baiturrahman, Giarso Raharjo mengatakan, sebelumnya masjid ini tak berbentuk seperti saat ini. Namun, usai jemaah masjid berencana merenovasi masjid, mereka pun mencari arsitektur.

Baca juga: Sejarah Masjid Langgardalem: Dibangun Sunan Kudus, tapi Tak Digunakan untuk Salat Jumat

”Pembangunannya mulai tahun 2016. Direnovasi. Awal mula berdiri tahun 1960-an oleh Mbah Kiai Ahmad Rasiman. Kemudian beberapa tahun diperbesar dan tahun 2016 direnovasi hingga menjadi seperti ini. Awalnya kecil seperti musala. Renovasi sekitar tiga kali,” ujarnya, Rabu (31/7/2024).

Sang arsitektur, yakni Wisnu Nugroho alias Yeyen pun menyodorkan tiga desain ketika itu. Joglo, kemudian minimalis dan desain Gotik. Akhirnya panitia renovasi masjid memilih desain ketiga.

”Pengurus masjid rembugan dan memilih desain gotik. Kesepakatan panitia,” imbuh Giarso.

Baca juga: Melihat Kemegahan Masjid Taqwa di Gebog Kudus, Ornamennya Didatangkan dari Turki dan China

Masjid ini pun dibangun dengan swadaya warga dukuh Kedung Panjang. Pembangunan masjid ini membutuhkan dana hingga Rp3 miliar. Walaupun, saat ini Masjid Baiturrahman belum selesai dibangun, namun keindahan masjid sudah bisa dirasakan dan dilihat.

”Biaya swadaya masyarakat dari sembilan RT. Habis Rp3 miliar. Belum selesai lantai yang atas. Sementara diberhentikan dahulu. Untuk kesulitan di bagian ornamen,” jelasnya.

Arsitektur masjid yang unik itupun menjadi daya tarik para pelancong. Apalagi usai Desa Soneyan ditetapkan menjadi desa wisata pada pertengahan Juli 2024.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER