BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah warga di Kecamatan Undaan tidak bisa tidur nyenyak saat musim hujan karena kondisi debit air Sungai Wulan terus naik sampai hampir melimpas ke permukiman warga. Makanya, mereka meminta dengan sangat kepada pemerintah untuk segera menormalisasi sungai dan meninggikan tanggul.
Pejabat (Pj) Kepala Desa (Kades) Undaan Kidul, Moktasim, mengungkapkan, Sungai Wulan terakhir kali dinormalisasi pada 1985. Sehingga, pihaknya menyerukan untuk segera menormalisasi Sungai Wulan dan peninggian tanggul.
“Jujur dalam kondisi ini warga sangat was-was, terlebih kepada petani yang saat ini menjelang musim panen. Sehingga warga saat ini bergotongroyong meninggikan tanggul untuk antisipasi dari limpasan air,” bebernya saat ditemui, Rabu (7/2/2024).
Baca juga: Waswas, Warga Undaan Bahu-membahu Tinggikan Tanggul Sungai Wulan yang Airnya Hampir Melimpas
Moktasim menyebut, warga sebenarnya pernah mendapat sosialisasi normalisasi Sungai Wulan pada 2017 lalu. Namun, hingga saat ini masih belum ada konfirmasi lebih lanjutnya.
Berbeda dengan Moktasim, warga Desa Medini, Ahmad Nasir, mebeberkan jika Sungai Wulan terakhir dinormalisasi pada tahun 2000an. Dalam kurun waktu itu, warga terus menunggu pemerintah untuk menormalisasi sungai.
“Harapannya sungai dinormalisasi dan tanggul ditinggikan, supaya masyarakat lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak saat musim hujan. Karena terakhir dinormalisasi sekitar tahun 2000an, jadi sudah lama,” keluhnya.
Baca juga: Camat Undaan Sebut Tanggul Sungai Wulan Kondisinya Sangat Mengkhawatirkan
Pria yang juga Ketua RT 7 RW 8 Desa Medini itu menuturkan, selama kondisi air yang tinggi itu membuat warga selalu stand by. Ia juga menyebut, kekawatiran warga jika terjadinya hal yang tak diinginkan atau terjadi tanggul jebol.
“Semoga tidak terjadi yang buruk. Tanggul saat ini rawan, kekawatiran warga itu kalau tanggul ini jebol masyarakat akan merugi jutaan rupiah, apalagi dengan alat-alat elektronik yang mudah rusak ketika terendam air, sehingga banyak barang yang tak bisa diselamatkan,” tuturnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

