BETANEWS.ID, KUDUS – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muria Kudus (UMK) menampilkan teater bertajuk “Sesat Arah” di Gedung Auditorium UMK, Rabu (8/7/2026) malam. Pementasan tersebut disutradarai oleh Jessy Segitiga yang mengadaptasi novel Partikel karya Dee Lestari.
Pementasan seni tersebut mengisahkan sosok perempuan bernama Zara yang kehilangan ayahnya. Melalui pertunjukan ini, penonton diajak menafsirkan ulang makna kehilangan, pencarian, hubungan manusia dengan alam, serta perjalanan menemukan jati diri sebagai manusia.
Pada awal pementasan, ditampilkan sosok Zara yang sejak kecil diajari cara memandang kehidupan oleh ayahnya, Firas. Keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat sebagai ayah dan anak. Namun, kehilangan sang ayah menjadi awal perjalanan Zara dalam mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Diwarnai adegan humor dan dialog-dialog di panggung berbentuk arena, pementasan tersebut mengajak penonton mengikuti perjalanan Zara mencari keberadaan ayahnya. Mulai dari desa, kota, hingga hutan yang disimbolkan dalam pertunjukan, justru membawa Zara semakin jauh dari jawaban yang dicarinya.
Jessy Segitiga mengatakan, pertunjukan tersebut tidak hanya mengadaptasi novel Partikel karya Dee Lestari. Melalui pementasan yang dibawakan para calon guru ini, ia ingin menghadirkan karya yang relevan dengan sastra, dunia pendidikan, realitas sosial, serta pengalaman para pemainnya.
Baca juga : Beberapa SD di Kudus Hanya Dapat Tiga Siswa Baru pada SPMB 2026 Ini
“Sebab teater tidak hanya sekadar pertunjukan, namun juga cara untuk membaca kehidupan. Sebagaimana partikel, saya ingin menghadirkan ruang tafsir ulang atas berbagai persoalan manusia,” bebernya.
Sesat Arah, kata dia, lahir dari gagasan tentang perjalanan panjang kehidupan yang tidak selalu lurus. Dalam perjalanannya terdapat keraguan, kehilangan, hingga kesesatan yang pada akhirnya memberikan pengalaman lebih dalam memahami jati diri. Pendekatan lingkungan yang disimbolkan dengan bambu, peran hewan, hingga simbol hutan juga menjadi bagian dari adaptasi tersebut.
“Sesat bukan berarti gagal menemukan arah, tapi melalui pengalamannya dalam mencari jati diri ia menjadi berani untuk melangkah di setiap proses yang akan ditempuh,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pementasan ini merupakan bentuk proses pencarian jati diri, hubungan manusia dengan alam, hingga berbagai pertanyaan hidup yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.
Salah satu aktor, Suhaibatul Musdalifah, mengaku banyak mendapat pengalaman selama mengikuti pertunjukan tersebut. Menurutnya, belajar teater memberikan banyak manfaat. Melalui pementasan itu, ia lebih memahami karakter orang lain, belajar bermain peran, serta menyadari bahwa manusia juga merupakan bagian dari partikel kehidupan.
“Awalnya cukup kaget karena harus memainkan dua karakter sekaligus. Tetapi setelah pendalaman karakter saya baru mendapat feel-nya. Tentu menyenangkan bisa berproses dan berteater bareng teman-teman lainnya,” katanya.
Ia berharap ke depan semakin banyak manusia yang menemukan kebahagiaannya tanpa merusak alam serta tetap menjaga hubungan baik dengan sesama sebagai bagian dari kehidupan.
“Pentas ini tidak memberikan jawaban atas perjalanan, tetapi mengajak penonton untuk ikut sesat arah, merasa kebingungan atas harapan dan kegelisahan. Tidak semua pencarian berakhir dengan jawaban, bisa jadi ada pengalaman dan makna dari perjalanan yang dilakukan,” tambahnya.
Editor: Kholistiono

