BETANEWS.ID, JEPARA – Ekosistem bawah laut porak-poranda akibat ulah mesin Jager Tong. Mesin tersebut menghisap pasir dan mengganggu koloni serta habitat ikan, salah satunya di kampung halaman Jarbuarong.
Kehidupan bawah laut tak hanya terusik oleh Jager Tong. Legenda makhluk buas, Tuan Bongkeng, yang muncul ke permukaan juga mengganggu ketenangan Silago dan Barbaron.
Ketika habitatnya hancur, Jarbuarong terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Di tengah pengembaraan, ia bertemu Silago dan Barbaron yang juga berusaha mencari ketenangan dari ancaman Tuan Bongkeng.
Itulah sepenggal kisah yang ditampilkan Teater Lentera dari Kabupaten Jepara. Lakon berjudul Jarbuarong tersebut dipentaskan di Stadion Tirtonadi, Kabupaten Blora, pada Sabtu (20/6/2026) malam.
Sutradara sekaligus penulis lakon Jarbuarong, Maseko BS, menyampaikan bahwa cerita tersebut merupakan upaya mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi alam, terutama ekosistem bawah laut. Aktivitas penambangan pasir dan sampah laut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem koloni ikan dan hewan lainnya, termasuk terumbu karang.
“Penggarapan pementasan kali ini kami menggunakan pendekatan teater fantasi. Harapannya, pementasan kami dapat dinikmati segala usia karena membawa misi pelestarian lingkungan dan laut,” ujar Maseko, Senin (21/6/2026).
Baca juga : Dari Kolong Imajinasi, Teater 9,9 Lahir di Desa Megawon Kudus
Agar pesan tersebut tersampaikan, sutradara tidak hanya mengandalkan pendekatan teater fantasi, tetapi juga mengemas pementasan secara komunikatif. Penonton tidak hanya duduk di kursi penonton, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam pementasan di atas panggung.
“Penonton kami beri ruang untuk pentas bersama di panggung pada adegan Jarbuarong, Silago, dan Barbaron menyusun rencana serta strategi menghadapi Jager Tong dan Tuan Bongkeng,” ungkap Maseko.
Pimpinan produksi, Rhobi Shani, menambahkan bahwa lakon Jarbuarong dipentaskan di tiga kota, yaitu Blora, Banyumas, dan Cirebon. Setelah berhasil memukau ratusan penonton di Blora, pementasan selanjutnya digelar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman, Banyumas, pada Minggu (28/6/2026). Kemudian di Gedung Kesenian Nyimas Rarasantang, Kota Cirebon, pada Sabtu (4/7/2026).
“Pentas keliling kali ini kami tidak hanya datang untuk pentas, tetapi juga menghadirkan lapak buku-buku sastra dan teater,” kata Rhobi.
Pentas keliling ini, tambah Rhobi, didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.
Editor: Kholistiono

