BETANEWS.ID, KUDUS – Selama bulan Ramadan, layanan Gedung Perpustakaan milik Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Kudus tetap beroperasi,walaupun dengan penyesuaian waktu. Meskipun jam layanan tidak lagi berlangsung hingga malam hari, minat masyarakat untuk datang ke perpustakaan masih terbilang cukup tinggi.
Kepala Arpusda Kabupaten Kudus, Mutrikah menjelaskan, bahwa penyesuaian jam operasional dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang menjalankan ibadah puasa. Jika pada hari biasa perpustakaan buka hingga pukul 19.00 WIB, selama Ramadan layanan disesuaikan dengan jam kerja pegawai agar mereka memiliki waktu mempersiapkan kegiatan ibadah.
Selama Ramadan, Arpusda membuka layanan pada Senin hingga Kamis pukul 07.30–14.00 WIB. Sementara pada hari Jumat layanan dibuka pukul 07.00–11.00 WIB, dan pada akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu, perpustakaan melayani pengunjung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.
Mutrikah menyebut, meski jam buka operasional terbatas, namun jumlah kunjungan selama Ramadan masih cukup stabil. Dalam sehari, rata-rata terdapat sekitar 179 hingga 200 pengunjung yang datang memanfaatkan fasilitas perpustakaan.
Baca juga: Laguna Greenhouse, Terapkan Milenial Farming Dalam Budidaya Melon untuk Hasil yang Istimewa
Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan hari biasa yang bisa mencapai 400 hingga 500 orang per hari, namun menurutnya masih menunjukkan antusiasme terhadap literasi di Kudus tinggi.
“Meski jam layanan lebih singkat, pengunjung tetap cukup banyak yang datang,” ujarnya.
Selain penyesuaian waktu layanan, beberapa kegiatan rutin di perpustakaan juga mengalami perubahan selama Ramadan. Kegiatan senam lansia untuk sementara waktu diganti dengan pengajian. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antar-stakeholder perpustakaan, sekaligus menjadi ruang diskusi untuk memunculkan gagasan-gagasan baru yang bisa dikembangkan bersama.
Selama Ramadan, ruang baca umum dan ruang referensi menjadi dua area yang paling sering dipadati pengunjung. Banyak pelajar maupun mahasiswa memanfaatkan kedua ruang tersebut untuk mengerjakan tugas sekolah, berdiskusi, hingga mencari bahan referensi.
Mutrikah menegaskan, bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam meningkatkan budaya literasi di tengah masyarakat. Selain itu, keberadaan perpustakaan juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap penggunaan gawai.
Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya menjaga kenyamanan ruang baca dengan penataan buku yang rapi serta lingkungan yang bersih agar pengunjung merasa betah saat berada di perpustakaan.
Baca juga: Imajinasi Reformasi Jilid-ll Menggema di UMK, Ratusan Mahasiswa Antusias Ikut Diskusi
Salah satu pengunjung, Ahmad Fatin, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UN) Sunan Kudus, mengaku kerap datang ke perpustakaan daerah bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Menurutnya, perpustakaan tersebut menjadi pilihan karena koleksi buku yang tersedia cukup lengkap.
Ia menilai fasilitas yang ada sudah cukup baik, mulai dari bangunan yang luas hingga ketersediaan buku yang beragam. Namun, ia menyarankan agar penataan buku dapat dibuat lebih sistematis sehingga memudahkan pengunjung dalam menemukan referensi yang dibutuhkan.
Fatin berharap generasi muda semakin tertarik mengunjungi perpustakaan. Sebagai agent of change (agen perubahan), mahasiswa dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi. Menurutnya, membiasakan membaca meski hanya beberapa halaman setiap hari dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan dampak besar dalam memperluas wawasan.
Editor: Kholistiono

