BETANEWS.ID, KUDUS – Bakti Lingkungan Djarum Foundation bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menggelar sosialisasi pengelolaan sampah organik rumah tangga, Rabu (17/12/2025). Sosialisasi yang digelar di Pendopo Kudus tersebut melibatkan 140 ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Kota Kretek.
Turut hadir pada acara tersebut, influencer Kudus Asik (Apik, Resik) yakni Isman Ridhwansah yang merupakan peserta MasterChief seasion 7. Isman mengedukasi para ibu-ibu PKK untuk memilah sampah sedari dapur.
Baca Juga: Capaian UCJ Kudus 46,55%, Jadi Salah Satu Tingkat Kepesertaan Tertinggi di Jateng
Selain itu, para emak-emak juga diajari agar sisa bahan masakan tidak langsung dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang berguna. Terakhir, para peserta diberi tantangan untuk membuat masakan yang sama dengan yang dibuat oleh Chief Isman.
Deputy Program Manager BLDF, Redi Joko Prasetyo mengatakan, bahwa ibu-ibu merupakan sosok di rumah tangga yang berinteraksi langsung dengan sampah, khususnya organik. Pasalnya, sampah organik itu banyak dihasilkan dari dapur.
“Oleh karena itu, hari ini kita mulai gerakkan ibu-ibu PKK yang ada di Kudus untuk terlibat dalam penanganan sampah organik. Kami ingin para ibu-ibu ini jadi agen perubahan dan mengajak ibu-ibu yang lain untuk terlibat aktif dalam program pilah sampah,” ujar Redi kepada awak media di sela-sela acara.
Lebih lanjut Redi menuturkan, acara memang dikemas dengan demo masak. Hal itu agar sesuai dengan kehidupan sehari-hari para ibu. Sehingga edukasi pemilahan sampahnya bisa langsung dipraktikkan.
“Di setiap kelompok masak, kita sediakan tiga tempat sampah. Yakni tempat sampah untuk organik, anorganik dan residu. Jenis sampah harus di buang sesuai tempatnya,” jelas Redi.
Dia mengatakan, program pilah sampah terus diupayakan agar terus berjalan. Sejak tahun 2018, BLDF sudah mengajak masyarakat Kudus untuk memilah sampah antara yang organik, anorganik dan residu.
“Karena komposisi sampah organik ini paling banyak di antara jenis lain, serta mempengaruhi kualitas sampah yang lain sehingga kita dorong dipilah untuk diproses di Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang ada di Djarum Oasis Kretek Factory,” jelasnya.
Selama ini, kata dia, BLDF sudah bekerja sama dengan 400 mitra yang bersedia untuk memilah sampahnya. Mitra tersebut terdiri dari instansi pemerintah, restoran, hotel, pasar tradisional dan lainnya.
“Hari ini kita mulai sasar ibu-ibu PKK. Harapannya ke depan kita bisa tentukan pilot project bersama, desa mana yang secara ideal secara penuh bisa memilah sampah dengan baik. Nanti sampah organik di desa tersebut akan kita ambil. Tempat sampahnya akan kita sediakan 7 ribu tong,” imbuhnya.
Baca Juga: Jelang Nataru, Harga Telur Ayam di Kudus Tembus Rp32 Ribu
Satu di antara peserta PKK, Anita Hidayati (50) mengatakan, di demo masak membuat mie mabur. Menurutnya, edukasi pengelolaan sampah yang dikemas dengan demo masak sangat menarik.
“Sangat-sangat positif. Karena kita jadi tahu, bahan-bahan yang tidak terpakai ternyata masih bisa dimanfaatkan lagi. Dan itu sangat meringankan pengeluaran ibu-ibu untuk dapur,” ujar warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota tersebut.
Editor: Haikal Rosyada

