BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah gang kecil di Jalan Pojok, Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus, terdapat warung sederhana yang menjadi magnet baru bagi pencinta kuliner manis. Namanya Pisang Ijo Annisa, sajian khas Makassar yang dalam beberapa bulan terakhir ramai diperbincangkan setelah viral di media sosial.
Meski lokasi warung ini tersembunyi, jauh dari keramaian jalan utama, setiap harinya pembeli berdatangan tanpa henti. Nabila Izzatin Nisa, sang pemilik warung, mengaku bisa menjual antara 80 hingga 180 porsi per hari.
Baca Juga: Bubur E-Mari, Menu Sarapan Baru yang Digandrungi Anak Muda di Mayong Jepara
“Kalau hujan begini, minimal 80 porsi. Tapi kalau ramai-ramainya bisa sampai 180. Jadi tergantung cuaca juga,” ujar Nabila saat ditemui beberapa waktu lalu.
Keistimewaan Pisang Ijo Annisa tak hanya pada cita rasanya yang autentik, tetapi juga dari resep aslinya yang didapat langsung dari orang Bugis di Makassar. Jika kebanyakan pisang ijo disajikan dengan bubur sum-sum, Nabila justru memilih vla sebagai pelengkap utama.
“Kebetulan belum pernah coba langsung yang lain-lain sih, cuma kebanyakan memang pakai bubur sum-sum. Kalau di sini pakainya vla,” jelasnya.
Nabila juga menambahkan, demi menjaga kesegaran produknya, ia memasak pisang ijo tiga kali sehari. Menurutnya, jika semua dimasak pagi, rasanya akan kurang segar saat disajikan sore harinya.
“Kita masaknya tiga kali sehari, jadi stoknya selalu fresh,” tuturnya.
Pisang Ijo Annisa terdiri dari pisang yang dibalut adonan hijau berbahan tepung beras dan daun pandan. Kemudian disiram sirup merah, santan, es batu, dan vla manis yang menambah kelezatan di setiap suapan. Seporsinya dijual dengan harga mulai dari Rp10 ribu.
Baca Juga: Teksturnya Unik, Mekar Saat Digigit, Es Gempol Sriyatun Jadi Favorit Warga Jepara
Untuk membuat nyaman pelanggan, Nabila menyediakan area makan sederhana dengan dihiasi aneka tanaman dan kursi untuk bersamtai. Pisang Ijo Annisa buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB.
“Padahal tempatnya masuk gang ya, tapi tetap rami. Inilah kekuatan media sosial, meski masuk gang ya tetap dicari,” tambahnya.
Penulis: Putri Pazriani, Mahasiswa PPL UIN Sunan Kudus
Editor: Haikal Rosyada

