31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Bubur E-Mari, Menu Sarapan Baru yang Digandrungi Anak Muda di Mayong Jepara

BETANEWS.ID,JEPARA – Di depan RS PKU Muhammadiyah Mayong, Jepara, aroma manis santan dan gula merah menyeruak dari sebuah lapak sederhana. Saat pagi masih berselimut udara dingin, antrean mulai terbentuk di depan warung bubur kecil yang belakangan jadi buah bibir warga sekitar.

Di balik meja saji berjejer toples-toples berisi bubur tradisional, seorang perempuan muda dengan senyum hangat tampak cekatan melayani pembeli. Ia adalah Ema Aryanti (30), pemilik lapak Bubur E-Mari.

Baca Juga: Melihat Proses Pembuatan Horog-Horog Khas Jepara, Ternyata Dimasak Selama Dua Hari

-Advertisement-

Meski baru dua bulan berjualan, namun Bubur E-Mari sudah berhasil memikat banyak pelanggan. Dari sekian banyak pelanggan, kalangan anak muda lah yang paling banyak memburu bubur racikan perempuan yang akrab disapa Ema itu.

“Pisang ijo memang favorit, sering cepat habis. Jadi kalau hari Minggu banyak yang datang lebih pagi,” tutur Ema, saat ditemui beberapa hari lalu.

Lapak Bubur E-Mari mulai buka pukul 05.00 WIB hingga menjelang siang. Ema menyuguhkan beragam pilihan menu, mulai bubur sumsum, bubur mutiara, ketan hitam, kacang hijau, dan bubur candil. Semua disajikan hangat dengan rasa yang lembut dan tidak terlalu manis, pas disantap saat sarapan.

Harganya pun ramah kantong, mulai dari Rp3.000 hingga Rp10.000 per porsi. Tak heran, warung bubur ini ramai dikunjungi terutama di akhir pekan. Banyak anak muda yang rela antre demi semangkuk bubur hangat yang disajikan dalam kemasan praktis, higienis, dan tetap menyuguhkan nuansa rumahan itu.

Bagi Ema, membuka usaha bukan hanya soal bisnis, tapi juga keputusan besar dalam hidup. Keputusan itu, katanya, bukan tanpa risiko, tapi ia bersyukur hasilnya kini mulai terlihat.

“Saya merasa nggak bisa selamanya jadi karyawan, karena saya memikirkan masa tua saya. Ada jiwa nekat yang akhirnya bikin saya memutuskan buka usaha sendiri,” ungkapnya.

Pada hari-hari ramai, omzetnya bisa mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu. Sementara pada hari biasa, pendapatannya turun sekitar Rp200 ribu.

Baca Juga: Es Tung-Tung Jadul Pak No CFD Kudus, Makanan Legend yang Dirindukan

Tak hanya soal rasa, Ema juga menaruh perhatian besar pada kebersihan dan kualitas penyajian. Semua bahan dipilih sendiri, proses pengolahan dilakukan di rumah, dan kemasan disiapkan secara higienis agar tetap nyaman dikonsumsi kapan saja.

“Bubur itu makanan sederhana, tapi kalau dibuat dengan hati, hasilnya pasti beda. Saya ingin orang makan bubur ini merasa seperti di rumah,” ucap Ema.

Penulis: M. Fatkhur Rifqi, Mahasiswa PPL UIN Sunan Kudus

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER