“Maunya memang mau sekolahkan di SLB, supaya dapat perhatian dan perawatan lebih. Saya sampai wadul ke Pak Bupati, Kamis (17/7/2025) dan langsung direspons cepat. Harapannya nanti bisa sekolah gratis,” ungkapnya.
Marwa merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ibunya, Wage (35), sehari-hari bekerja sebagai tukang masak di warung soto Bu Jatmi. Adiknya, Andara Aliya Sofa, lahir pada tahun 2020 dan kini sudah di sekolahkan di PAUD sekitar.
Guru SLB Purwosari, Kukuh Imanda Sabrang, menjelaskan, untuk bisa diterima di SLB, diperlukan asesmen dari psikolog terlebih dahulu. Supaya program yang dijalankan sekolah sesuai dengan hasil psikolognya.
“Kita tunggu rekomendasi dari psikolog dulu terkait kondisi anak. Setelah ada hasilnya, baru bisa masuk SLB, dan kami akan programkan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Baca juga: Diklaim Canggih, Aman dan Nyaman, Segini Harga Mobil Listrik Polytron
Dari pengamatan awal, Kukuh menduga Marwa memiliki kebutuhan ganda. Yakni down syndrome dan spektrum autis.
“Kalau kami lihat secara kasat mata, ini ganda, ada down sindrome dan spektrum autis. Jadi nanti selain layanan pendidikan di SLB, juga diimbangi dengan terapi,” paparnya.
Meski secara akademik anak memiliki keterbatasan, lanjut Kukuh, SLB tetap akan memberikan pelatihan sesuai kemampuan anak. Sebab menurutnya, kemampuan anak berkebutuhan khusus memang berbeda, ada yang bisa dididik secara akademik atau hanya dilatih kemampuannya.
“Kalau akademik tidak mampu dikejar, kita latih untuk kemandirian. Misalnya mencuci baju, merapikan barang, dan lainnya. Kalau sudah dewasa, anak bisa lebih mandiri. Tapi jika mampu, kita latih pelajaran akademik juga,” tandasnya.
Editor: Suwoko

