BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Getas Pejaten, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di sebelah SPBU Pertamina 44.593.21 Getas Pejaten, tampak sebuah lapak dengan nuansa khas Jawa dihiasi wayang. Lapak tersebut ialah Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara milik Saonah (43), perempuan asli Banjarnegara.
Di tengah kesibukannya, perempuan ramah itu sudi berbagi cerita tenatang usaha tersebut. Saonah mengaku, sudah merantau di Kudus pada tahun 2003. Dan saat ini ia sudah menetap di Kudus bersama suami dan dua anaknya.
Baca Juga: Sukses dengan Telur Gulung, Endogmu Segera Luncurkan Seafood Gulung
Sejak merantau di Kudus, Saonah telah menekuni usaha es dawet. Berkat ketekunannya itu, kini usaha tersebut menjadi sumber utama penghidupan keluarganya.
“Kalau pas awal dulu saya jualan di Stasiun Kudus. Cuma jual satu menu saja, es dawet santan. Waktu itu masih pakai gerobak kecil,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Meski saat ini sudah memiliki banyak pelanggan, Saonah mengaku bahwa perjalanan jualannya tak selalu mulus. Selama dua dekade lebih, Saonah kerap berpindah-pindah tempat. Dari Pasar Stasiun, pindah ke Pasar Baru, lalu sempat mangkal di beberapa titik lainnya, hingga akhirnya menetap di lokasi sekarang.
“Kalau sekarang sudah menetap di sini. Lokasinya cukup strategis karena dekat dengan lalu lintas warga dan pekerja,” bebernya.
Saonah mengaku, ide awal membuka usaha ini berasal dari suaminya. Awalnya hanya coba-coba, namun ternyata minuman khas daerahnya itu diterima dengan baik di Kudus. Belakangan, demi menyesuaikan selera pasar, ia menambahkan menu dawet susu yang lebih disukai kalangan muda.
Kini, ia sudah memiliki tiga varian minuman segar khas Banjarnegara. Yakni es dawet original (menggunakan santan), es dawet susu putih, dan es dawet susu cokelat. Semuanya diracik langsung oleh Saonah dari bahan-bahan alami yang ia pilih sendiri setiap pagi.
“Dawet saya buat dari daun pandan asli. Gula merahnya juga saya masak sendiri biar kental, dan santannya perasan kelapa murni,” jelasnya.
Harga yang ditawarkan pun cukup ramah di kantong. Untuk es dawet santan hanya Rp5.000 per gelas, sementara varian susu putih dan cokelat dijual Rp7.000.
Baca Juga: Jagung Bakar Bu Sablah, Camilan Legendaris di GOR Wergu Kudus
Saonah buka mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Ia berjualan setiap hari kecuali jika ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Dari jualan dawet, Saonah bisa meraup omzet sekitar Rp700 ribu sehari.
“Kalau jam satu siang sampai sore biasanya ramai. Banyak anak sekolah, pekerja juga sering mampir beli. Pas ramai, bisa habis 80 sampai 100 gelas sehari. Apalagi kalau cuaca panas,” tambahnya.
Penulis: Fadila Noor, Mahasiswa PPL UIN Sunan Kudus
Editor: Haikal Rosyada

