31 C
Kudus
Rabu, Januari 28, 2026

Ngadu ke DPRD Jepara, Orang Tua Bayi yang Diduga Meninggal Setelah Imunisasi Mengaku Kecewa

BETANEWS.ID, JEPARA – Pasangan muda yang merupakan orang tua dari bayi berusia 2,5 bulan yang diduga meninggal setelah mendapatkan imunisasi DPT 1 ternyata sempat mengadu kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara.

Ditemui di kediamannya, Desa Wanusobo RT 5 RW 1, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Mauliddiva Muhammad Kenangkana (26) dan istrinya Reza Meutia Agustina (20) bercerita mereka ternyata sempat dua kali datang ke rumah salah satu anggota DPRD Jepara yaitu Imam Subhi.

Baca Juga: Terhubung ke Delapan Desa, Pemkab Jepara Luncurkan Wisata Terintegrasi

-Advertisement-

Diva bercerita tujuan utamanya datang ke rumah Imam Subhi karena ingin mengadu terkait musibah yang ia alami setelah kehilangan putri pertama sekaligus cucu pertama di keluarganya.

Sebelumnya putri Diva mendapatkan suntik imunisasi kedua pada Kamis, (12/6/2025) di Posyandu Melati Desa Wanusobo.

Sehari setelah imunisasi putrinya sempat mengalami demam dan bengkak di bagian bekas suntikan. Tiga hari kemudian panasnya reda. Namun saat hari ke-15 setelah imunisasi, putrinya kembali sakit.

Diva kemudian memeriksakan putrinya ke dokter klinik dan kemudian dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah Mayong. Disana putrinya sempat mendapatkan perawatan, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, (29/6/2025) pukul 08.07 WIB.

Setelah putrinya meninggal, Diva dan keluarganya sempat datang dua kali ke rumah Imam Subhi. Yaitu pada Selasa, (1/7/2025) dan Jumat, (4/7/2025).

“Dua kali kita dipanggil untuk datang ke rumah Pak Imam. Tujuan kesana karena saya sebagai masyarakat ingin mengadu ke wakil rakyatnya bahwa ada anak (anak saya) meninggal setelah imunisasi,” tuturnya saat ditemui di kediamannya, Rabu (9/7/2025).

Dengan datang ke rumah anggota dewan ia berharap Imam Subhi bisa menjadi penengah antara pihaknya dengan bidan desa serta pihak puskesmas agar penyebab putrinya meninggal bisa menemukan titik terang.

Namun, saat datang kedua kalinya ia justru merasa kecewa pada pernyataan yang disampaikan oleh Imam Subhi.

“Saat datang yang ke dua, Pak Imam ini menyampaikan katanya dari pihak saya 60 persen salah (menjadi penyebab putrinya meninggal), bidan 40 persen,” ungkapnya.

Setelah menyampaikan pernyataan tersebut, dari pihak Imam Subhi menurutnya memang sudah sempat menghubungi dan menyampaikan klarifikasi.

Namun ia berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara agar bisa memberikan kejelasan terkait penyebab putrinya meninggal.

Sebab, setelah 11 hari paska putrinya meninggal, dari pihak bidan posyandu maupun Puskesmas Kedung 1 belum memberikan penjelasan secara pasti terkait musibah yang dialami keluarganya.

Baca Juga: Bayi Berusia 2,5 Bulan di Jepara Meninggal Usai Suntik Imunisasi

Dari pihak bidan desa dan Puskesmas Kedung 1 menurutnya hanya datang sekali untuk menyampaikan bela sungkawa. Yaitu pada hari ketiga putrinya meninggal, Rabu (2/7/2025). Saat datang mereka menurutnya membawakan gula sebanyak 5 kg.

“Saya sebenarnya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, kami sudah ikhlas. Kami harapannya hanya ingin penjelasan lengkap, tidak hanya tali asih karena ini nyawa,” ucapnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER