BETANEWS.ID, JEPARA – Kisah pilu dialami oleh pasangan muda, Mauliddiva Muhammad Kenangkana (26) dan Reza Meutia Agustina (20) warga Desa Wanusobo RT 5 RW 1, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.
Anak pertama mereka bernama Chayra Ainin Qulaibah yang baru lahir pada tanggal 2 April 2025 lalu dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, (29/6/2025) di usia 2,5 bulan.
Baca Juga: Dikecoh PGOT di Kawasan Menara Kudus, Satpol-PP Tak Berhasil Tangkap Satupun
Ditemui di kediamannya, Diva bercerita putri pertamanya tersebut meninggal dunia diduga setelah suntik imunisasi kedua jenis DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) 1 di Posyandu Melati, Desa Wanusobo pada Kamis, (12/6/2025) lalu. Putri pertamanya tersebut disuntik imunisasi di paha sebelah kiri.
Pada hari kedua imunisasi, Jumat, (13/6/2025) putrinya tersebut mengalami demam. Setelah dicek menggunakan termometer, suhu tubuh anaknya mencapai 39 derajat Celcius.
Saat imunisasi, Diva mengatakan bidan desa memang sudah menyampaikan bahwa setelah imunisasi bisa memberikan dampak berupa demam selama tiga hari dan bengkak di bagian bekas suntikan.
Karena tidak diberikan obat saat imunisasi, ia kemudian membeli obat penurun panas bernama Sanmol. Obat tersebut ia beli di apotik.
“Saat itu dikasih obat putri saya ini tidak mau, mutah. Akhirnya dikasih Asi sama istri saya, terkadang mau, terkadang mutah juga. Saya berfikirnya saat itu, dikasih Asi mutah karena kekenyangan,” tuturnya.
Di hari ketiga dan ke-empat paska imunisasi, demam di tubuh putrinya mulai reda. Diva dan istrinya pun merasa senang. Putrinya juga kembali aktif dan ceria.
Namun, di hari ke-15 paska imunisasi, pada Jumat (27/6/2025) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, putrinya tiba-tiba terbangun dan matanya melihat ke atas.
“Saat itu putri saya juga tidak mau bersuara, saya pegang tangannya dingin, dikasih Asi juga tidak mau,” katanya.
Kemudian paginya, ia bersama istri dan kakaknya kemudian membawa putrinya tersebut ke Klinik Ananda Dr. Ahmad Fuad di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan.
Sesampainya di klinik tersebut, ia mengatakan putrinya di diagnosa mengalami dehidrasi berat dan disarankan untuk test laboratorium.
“Dari Dr. Fuad mengatakan untuk dirujuk saja ke rumah sakit karena kondisinya sudah parah, infeksi bakterinya sudah menyebar ke seluruh tubuh,” katanya.
Dari Dr. Fuad, putrinya tersebut kemudian dirujuk ke RS PKU Muhamadiyah Mayong. Sesampainya disana, putrinya tersebut dimasukkan ke Ruang IGD untuk dipasangi infus.
Namun, karena kondisinya yang sudah lemah dokter sempat kesulitan untuk menemukan urat nadi putrinya. Baru pada pencarian ke tujuh, urat nadi putrinya baru ditemukan.
Kemudian karena kondisi putrinya semakin melemah, pada sore harinya, putrinya dimasukkan ke ruang PICU-NICU. Saat di ruang tersebut, putrinya sempat menunjukkan respon dengan menangis namun hanya sebentar.
Baca Juga: Dikecoh PGOT di Kawasan Menara Kudus, Satpol-PP Tak Berhasil Tangkap Satupun
Di hari Sabtu, (28/6/2025) pagi putrinya mengalami kejang dan sempat membaik. Kemudian oleh dokter dipasangi selang ventilator.
“Malam minggunya itu kakinya sempat merespon, ada gerakan. Namun paginya, Allah berkehendak lain, pada Minggu pagi pukul 08.07 putri saya dinyatakan meninggal dunia,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

