BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Kudus dari tahun ke tahun mengalami kekurangan siswa baru. Seperti yang terjadi di SD 1 Wates, SD 2 Bulungcangkring, dan SD 3 Jati Wetan.
Bahkan hingga Selasa (1/7/2025), masing-masing SD itu belum sampai ada lima pendaftar. Sebagai contoh SD 1 Wates, baru menerima satu murid baru di tahun ajaran 2025/2026 ini.
Baca Juga: Tiga SMP Negeri di Kudus yang Kekurangan Siswa Ajukan Perpanjangan Pendaftaran Sekolah
Kepala SD 1 Wates, Arif Wijayanto mengatakan, sejak sekolahnya muncul dalam radar repgrouping atau penggabungan pada 2023/2024, sekolah tersebut tak sepenuhnya mensosialisasikan secara gamblang kepada warga. Sehingga hal itu menurutnya menjadi salah satu dampak nyata sekolahnya tak diminati oleh pendaftar.
“Namun rencana itu hingga kini belum terlaksana. Jadi seperti tahun lalu kami hanya mendapatkan dua murid baru dan sekarang ini baru ada satu murid saja,” katanya, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (1/7/2025).
Padahal secara kuota rombongan belajar (rombel) untuk stau kelas SD ada sebanyak 28 siswa. Pihaknya pun kini masih berusaha membuka pendaftaran bagi calon murid baru sampai 14 Juli 2025. Tak menutup kemungkinan, sampai penutupan data pokok pendidikan (Dapodik) pihaknya masih terbuka untuk siswa yang mau bersekolah.
“Jumlah keseluruhan siswa mulai kelas 1-6 sebelum kelulusan total ada 27, ketambahan dua anak dari pindahan pada Januari 2025. Sekarang yang lulus ada empat siswa, jadi masih 23 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6,” terangnya.
Ia menyebut faktor utama minimnya siswa karena lokasi SD 1 Wates masih dalam satu lingkup dengan SD 3 Wates serta keberadaan beberapa sekolah swasta di sekitar wilayah tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di SD 2 Bulung Cangkring. Plt Kepala Sekolah, Sutipah menyampaikan, tahun ini baru tiga siswa yang mendaftar. Total siswa saat ini hanya 14 orang, dari kelas 2 sampai kelas 6 untuk tahun ajaran 2025/2026.
“Tahun lalu lulus sembilan siswa, sekarang baru masuk tiga. Pembukaan pendaftaran masih sampai 14 Juli. Kendalanya karena orang tua mempertimbangkan kondisi geografis sekolah yang bangunannya terpisah sekitar 200 meter antara kelas 1,2,5,6 dengan 3,4,” jelasnya.
Meskipun demikian, ia mengaku sudah mencoba menerangkan kepada wali murid, bahwa guru-guru sudah siap menyesuaikan pembelajaran meski ruangan terpisah.
Sementara itu, di SD 3 Jati Wetan, Kepala Sekolah Sugiyantoro mengaku tahun ini sudah ada tiga siswa mendaftar. Kelas 1 akan bertambah dua anak yang tahun lalu belum cukup umur untuk masuk SD.
“Pendaftaran masih berjalan. Tahun lalu hanya empat siswa dan dua titipan yang belum cukup umur,” ujarnya.
Jumlah siswa keseluruhan saat ini 50 orang, ditambah dua anak titipan yang belum masuk Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Ia menyebut, selama enam tahun terakhir, jumlah murid di sekolahnya memang cenderung minim. Hal itu disebabkan rendahnya angka kelahiran di wilayah sekitar seperti Dukuh Gendok, Tanggulangin, Barisan, dan Desa Jati Wetan.
Untuk menarik minat masyarakat, SD 3 Jati Wetan kini menerapkan kurikulum semi Islam terpadu. Setiap hari, siswa diwajibkan menghafal satu ayat Al-Qur’an Juz 30.
“Harapan kami, lulus dari sini mereka hafal juz 30. Program ini sudah berjalan satu tahun sejak saya diangkat menjadi kepala sekolah Agustus 2023,” ujarnya.
Selain menjaga karakter siswa, program ini juga mempermudah guru agama dalam proses seleksi lomba-lomba keagamaan seperti MAPSI (Mata Pelajaran dan Seni Islami).
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho menambahkan, sekolah dasar negeri di Kota Kretek ada 397 sekolah. Menurutnya, hingga kini pendaftaran SD masih dibuka sampai 14 Juli 2025, atau berlangsungnya tahun ajaran baru 2025/2026.
Baca Juga: Antusiasme Hari Pertama Daftar Ulang Calon Murid SMP di Kudus Tinggi
“Jadi kami juga tidak bisa mengintervensi wali murid untuk menyekolahkan anaknya di SD negeri. Karena mereka kebanyakan lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta,” ujarnya.
Di samping itu, lanjutnya, angka kelahiran di daerah menurun sehingga menyebabkan penurunan jumlah siswa setiap tahun.
Editor: Haikal Rosyada

