20 ODHA di Kudus Meninggal Dunia Selama Semester Pertama 2025

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 20 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Kudus dilaporkan meninggal dunia selama semester pertama tahun 2025. Data tersebut disampaikan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kudus, berdasarkan pemantauan dari Januari hingga Juni 2025.

Manajer Penanggulangan Kasus HIV/AIDS KPA Kudus, Eni Mardiyanti, menjelaskan bahwa dari 20 kasus kematian tersebut, sebagian besar merupakan pasien lama yang telah ditemukan sebelum tahun ini.

Baca Juga: Awalnya Sempat Tegang dan Mental Terguncang, Yola Menang Dramatis di Final Panahan Recurve U-18

-Advertisement-

“Sebanyak 14 orang merupakan ODHA yang ditemukan sebelum 2025. Mereka sebagian besar putus pengobatan atau memang tidak menjalani pengobatan sama sekali. Sementara enam lainnya adalah temuan baru tahun ini,” ujar Eni di ruang kerjanya, Senin (7/7/2025).

Menurut Eni, putus pengobatan menjadi salah satu penyebab utama kematian ODHA di Kudus. Padahal, jika rutin mengonsumsi antiretroviral (ARV), penderita HIV bisa tetap sehat dan menjalani kehidupan secara produktif.

Sementara itu, pada semester pertama 2025 ditemukan kasus HIV baru sebanyak 81 orang di Kudus. Temuan ini terdiri dari 61 laki-laki dan 20 perempuan. Faktor utama penularan masih didominasi oleh hubungan seksual berisiko tinggi.

“Dari 81 kasus baru itu, 34 orang tertular melalui hubungan sesama jenis laki-laki (LSL), 24 dari kalangan pembeli seks, dan lima dari wanita pekerja seks tidak langsung (WPS/TL),” jelas Eni.

Ia menambahkan, WPS tidak langsung adalah perempuan yang secara administratif tercatat sebagai karyawan swasta atau ibu rumah tangga, namun dalam praktiknya juga melakukan aktivitas seksual berbayar.

Yang cukup memprihatinkan, lanjut Eni, terdapat lima ibu rumah tangga yang terpapar HIV akibat tertular dari suaminya yang sering melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Selain itu, terdapat dua pekerja seks dan sembilan individu lainnya yang tertular dari berbagai faktor.

Baca Juga: Berburu Keberkahan Sunan Kudus, Ribuan Bungkus Nasi Jangkring Ludes dalam Hitungan Jam

Eni menyebut bahwa komunitas LSL di Kudus tidak terlalu banyak, namun jumlah anggotanya cukup besar, sehingga tetap menjadi kelompok yang berisiko tinggi.

KPA Kudus terus mendorong upaya deteksi dini dan edukasi, serta mengajak masyarakat yang masuk kelompok risiko untuk tidak takut memeriksakan diri. “Pemeriksaan dan pengobatan itu penting. HIV bukan akhir dari segalanya jika ditangani sejak dini,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER