Berkat Resep Nenek, Tia Sukses Bisnis Keong Srutup yang Jadi Favorit di Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, sebuah warung sederhana dengan nama unik “Saung Keong Srutup” terus menarik perhatian pecinta kuliner. Di bawah rindangnya pepohonan, para pelanggan duduk santai di gazebo sambil menanti hidangan khas berupa keong srutup, olahan tradisional yang kini tak oernah sepi pembeli.

Warung ini milik Tia Ambarwati (55), seorang ibu rumah tangga yang membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Setelah sempat rugi belasan juta rupiah saat mencoba bisnis kuliner pada 2019-2020, Tia sapaan akrabnya, sempat enggan kembali berdagang. Namun, pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi titik balik kehidupannya.

Baca Juga: Renyah dan Laris, Produksi Bawang Goreng di Jepara Tembus 5 Kwintal Sehari

-Advertisement-

“Saat itu saya iseng beli dua kilogram keong, lalu saya masak pakai resep warisan nenek. Saya unggah di status WhatsApp, ternyata banyak yang tertarik dan langsung pesan,” ujarnya saat ditemui di warungnya beberapa waktu lalu.

Dari status iseng itu, Tia mulai menerima pesanan secara online. Dengan beralaskan tikar di depan rumah, ia melayani pelanggan yang terus berdatangan. Antusiasme yang tinggi membuat Tia memutuskan membuka warung secara permanen pada 2021, tepat di halaman rumahnya.

Menu andalan warung ini adalah keong srutup, yang dimasak dengan bumbu khas serta daun singkil, menghasilkan aroma dan rasa yang unik. Jenis keong yang digunakan adalah keong rawa atau keong hitam yang memiliki tekstur lebih kenyal. Untuk menjaga kualitas rasa, keong segar rutin didatangkan dari Demak, Kudus, dan Rembang setiap dua hingga tiga hari.

“Kalau tidak segar, hasil masakan juga kurang maksimal,” jelasnya.

Tak hanya keong srutup, warung ini juga menawarkan menu lain seperti ayam bakar, sup balungan, ikan gurame, dan nila. Namun tetap saja, lebih dari 70 persen penjualan berasal dari menu keong srutup.

Harga yang ditawarkan pun terjangkau, mulai dari Rp12.000 per porsi. Dalam sehari, Tia bisa menjual antara 50 hingha 100 porsi keong, dengan kebutuhan bahan baku mencapai 15 hingga 28 kilogram keong per hari.

Saat akhir pekan atau musim liburan, warung ini bisa menghasilkan omzet hingga Rp 3,5 juta per hari. Sementara di hari-hari biasa masih bisa mencapai Rp1 juta per hari.

Warung ini buka setiap hari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, kecuali hari Jumat. Banyak pelanggan datang dari berbagai daerah, mulai dari Jepara, Demak, hingga Kudus.

Baca juga: Punya Nama Unik, Marsotel di Jalan Mangunsarkoro Jepara Bikin Penasaran Pembeli 

“Rasanya khas, gurih, dan bisa pilih tingkat pedas. Tempatnya juga sejuk dan nyaman,” ujar Durri Akhyati (40), pelanggan asal Sengonbugel yang sudah langganan sejak 2021.

Saung Keong Srutup juga menawarkan pengalaman bersantap yang berbeda. Dengan konsep terbuka dan nuansa alam, warung ini dilengkapi gazebo-gazebo kayu dan fasilitas karaoke dengan tarif Rp20.000 per jam. Hal ini menjadikan tempat ini tidak sekadar lokasi makan, tetapi juga ruang yang nyaman untuk berkumpul bagi keluarga maupun komunitas.

Penulis: Ella Kartika Sari, Mahasiswa PPL IAIN Kudus

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER