31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Renyah dan Laris, Produksi Bawang Goreng di Jepara Tembus 5 Kwintal Sehari

BETANEWS.ID, JEPARA – Semerbak aroma bawang goreng tercium di sebuah ruangan. Beberapa tumpukan bawang goreng yang baru saja matang terlihat sedang ditiriskan, lalu diputar dalam mesin spinner untuk memastikan tidak ada minyak yang menempel. Begitulah proses yang harus dilalui Ahmad Rohman (29) untuk menghasilkan bawang goreng yang renyah dan berkualitas.

Di tengah kesibukan itu, Ahmad sudi berbagi cerita tentang usahanya. Ia mengungkapkan, bahwa bisnis bawang goreng yang dijalankan kurang lebih satu tahun itu sudah berkembang dengan pesat.

Baca juga: Punya Nama Unik, Marsotel di Jalan Mangunsarkoro Jepara Bikin Penasaran Pembeli 

-Advertisement-

Setiap hari, Ahmad memproduksi bawang goreng dengan jumlah yang cukup besar. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan sekitar 1,5 kwintal bawang merah, dan pada hari-hari tertentu, ketika pesanan datang dalam jumlah banyak, ia bisa mengolah hingga 5 kwintal bawang.

“Orang pesan ada yang langsung 30 kilogram, ada yang 50 kilogram juga. Biasanya yang pesan itu buat campuran adonan bakso,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu di Ujungbatu, Kecamatan Jepara.

Ahmad mengungkapkan, bahwa bawang goreng produksinya tidak mengandung pengawet tambahan. Hanya sedikit garam dan tepung terigu yang digunakan sebagai bumbu dan pengawet alami.

Dengan cara ini, bawang goreng buatannya dapat bertahan hingga empat bulan. Namun, untuk pesanan yang tidak dicampur bumbu apapun, umur simpan bawang goreng hanya sekitar satu hingga dua bulan.

Ia juga menyediakan berbagai pilihan kemasan, dari yang kecil hingga besar. Kemasan kecil seberat 20 gram dibanderol dengan harga ekonomis Rp2.000, sementara kemasan yang lebih besar, seperti 1 kilogram dan 2,5 kilogram, dijual dengan harga mulai dari Rp50.000.

Baca juga: Oven Kecil Jadi Saksi Bisu Lonjakan Pesanan Hampers Puding Natal Lil Oven Kudus di Tiap Tahun

Bawang goreng ini dipasarkan ke pasar-pasar di Jepara, termasuk daerah Mlonggo, Bangsri, dan Pecangaan. Ia biasanya menitipkan produknya ke pedagang sayur, karena bawang goreng sering digunakan sebagai pelengkap masakan seperti sop, soto, dan bakso.

“Kalau omzet yang didapat saat ini belum terlalu banyak, soalnya usahanya masih kecil. Paling ya sekitar Rp1-2 juta per hari,” katanya.

Penulis: Nur Maisya Ayyasy, Mahasiswa Magang Unisnu

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER