
Diordean kembali menjelaskan, melalui metode tersebut, anak-anak biasanya tertarik pada cerita karena mengandung karakter, alur, dan dunia yang memicu imajinasi mereka. Ketika anak-anak terlibat dalam cerita, mereka lebih mudah menyerap informasi, serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan penuh kreativitas.
“Pengenalan computational thinking lewat aktivitas-aktivitas interaktif seperti ini sangat bermanfaat bagi perkembangan kognitif anak sejak dini. Hal ini juga membantu mereka memahami cara berpikir logis dan berkolaborasi dalam mencari solusi,” jelasnya.
Diordean, yang baru pertama kali terjun dalam dunia pendidikan anak usia dini, menemukan bahwa mengajar di PAUD Terpadu Kalirejo memberikan pengalaman yang mengesankan. Ia juga berbagi cerita tentang bagaimana ia mengajak anak-anak untuk membuat roket sederhana.
Baca juga: Pendidikan Karakter di Sekolah PAUD Lebih Penting dari Calistung (2)
“Meski awalnya anak-anak tampak kurang sabar, mungkin karena mereka sangat antusias dengan pelajaran tadi. Tapi ada guru yang sigap membantu ketika anak-anak mulai tidak kondusif,” beber anak pertama dari dua bersaudara itu.
Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa mengajar anak-anak kecil membawa tantangan tersendiri bagi Diordean. Dia mengakui, menjaga perhatian anak-anak adalah tugas yang paling sulit. Menurutnya, anak-anak sering kali cepat merasa bosan dan ingin segera memulai kegiatan praktis tanpa mendengarkan instruksi dengan baik.
“Anak-anak sebenarnya sangat tertarik dengan materi, mereka hanya kurang sabar menunggu saja,” katanya.

