BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah siswa sekolah dasar negeri (SDN) 3 Medini, Kecamatan Undaan, terlihat asyik bermain permainan tradisional. Kegiatan pengenalan permainan tradisional kepada anak tersebut dilaksanakan untuk memperingati Hari Anak Nasional, pada Rabu (23/7/2025).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD 3 Medini, Darmo Winoto menyampaikan, peringatan hari anak nasional pada 23 Juli, pihaknya memperkenalkan berbagai permainan tradisional. Permaian yang digelar meliputi, gobak sodor, enggrang, lompat tali, dakon, dan lain sebagainya.
“Sesuai dengan perintah dari Disdikpora Kudus, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional kita harus memperkenalkan dan mengajak anak bermain permainan tradisional. Tujuannya agar anak mengenal budaya,” katanya melalui siaran audionya yang dikirim kepada Betanews.id, Kamis (24/7/2025).
Baca juga: Sediakan Layanan Speling, Taj Yasin Tinjau MPLS SMK Negeri 1 Kudus
Menurutnya, permainan tradisional yang dikenalkan kepada siswa merupakan peninggalan leluhur yang dapat dilestarikan kembali. Ia menyebut, ketika permainan tradisional tidak dikenalkan kepada generasi sekarang, kemungkinan besar bisa punah.
Oleh karena itu, bertepatan dengan Hari Anak Nasional ini, siswa diajak dan mengenal budaya sebagai salah satu upaya agar anak tidak larut dalam perkembangan zaman yang ada saat ini.
“Supaya anak tidak larut dan tidak terkontaminasi dengan gadget. Terlebih dalam permainan ini manfaatnya cukup bagus, anak bisa keringat, sehingga mereka sehat,” tuturnya.
Tak hanya pengenalan budaya, kata Darmo, dengan permainan tradisional itu, anak dibuat riang gembira, ceria, dan dapat bermain dengan teman-teman dengan asyik. Hal itu penting, mengingat di era digitalisasi anak cenderung lebih banyak menggunakan handphone.
Baca juga: Sambut Siswa Baru, SD 5 Karangbener Kudus Pentaskan ‘Gerandong Reborn’
“Seperti permainan egrang, sangat bagus karena membutuhkan keseimbangan badan. Sehingga dengan adanya permainan ini dapat membuat anak lebih sehat dan tidak lagi murung, apalagi nangis,” ujarnya.
Dia berharap, permainan tradisional sebagai warisan budaya dari leluhur dapat dikenalkan lebih luas lagi. Tak hanya di lingkungan sekolah, namun permainan ini juga bisa dimainkan di kampung-kampung.
“Harapannya di kampung-kampung bisa dilanjutkan, agar permainan tradisional tidak punah,” jelasnya.
Editor: Suwoko

