31 C
Kudus
Selasa, Juli 16, 2024

Di Balik Motifnya yang Indah, Ternyata Produksi Tenun Troso Begitu Rumit (2)

BETANEWS.ID, JEPARA- Desa Troso, yang terletak di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, dikenal sebagai pusat produksi kain tenun yang terkenal. Tenun Troso memiliki kekayaan sejarah, berasal dari helaian benang lungsi atau benang pakan yang kemudian diikat dan dicelupkan ke dalam pewarna alami.

Pengusaha Tenun Troso, Fatkhurrahim, menjelaskan, di balik keindahan kain Tenun Troso, ternyata ada proses panjang dan tidak sederhana. Membuat tenun troso dimulai dari bahan benang putih yang diurai satu per satu. Setelah benang tersusun rapi, barulah memasuki proses pembuatan pola.

Proses produksi kain Tenun Troso di salah satu rumah produksi. Foto: Zuhaira Millatina

Setelah pembuatan pola, pengerjaan berlanjut ke tahap pengikatan benang menggunakan tali rafia. Tahap selanjutnya, adalah proses pewarnaan dengan meremdam benang menggunakan air mendidih yang diberi pewarna. Benang yang sudah direndam air pewarna, kemudian dijemur di bawah terik matahari secara langsung.

-Advertisement-

Baca juga: Aksesoris Tenun Troso di Kharinable Ini Jadi Buruan Anak Muda

Setelah kering, kemudian memasuki proses melepaskan tali rafia atau yang biasa disebut mbatil. Lalu dilanjutkan ke tahap nyekir atau menggulung kembali benang. Terakhir, sebelum proses tenun adalah menyucuk atau memasukkan benang ke dalam alat tenunnya.

Di luar proses pengolahan benang, para peng rajin membutuhkan waktu sekitar sembilan jam untuk menghasilkan selembar kain tenun troso dengan panjang 15 meter. Itu pun belum bisa dijadikan patokan, karena masih banyak pengrajin yang sudah tua sehingga kecepatannya menurun.

“Biasanya mulai pukul 7.00-16.00 WIB itu dapat 15 meter. Tapi kalau dihitung dari proses mengolah benang, ya, bisa membutuhkan waktu satu bulan,” terangnya yang masih mempertahankan alat tradisional itu, minggu lalu.

Dari banyaknya kain yang diproduksi Fatkhur, dia menjual dengan harga mulai Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per potong. Harga tersebut disesuaikan dengan pilihan warna serta kualitas benang yang digunakan.

“Kan memang dari bahan awalnya juga beda-beda jenisnya. Kalau yang ini bahannya memang impor dari India, jadi memang lumayan mahal, tapi kualitasnya bagus,” katanya sambil menunjukan benang impor dari India.

Baca juga: Kain Tenun Troso Pakai Pewarna Alami yang Terlihat Elegan nan Mewah

Generasi ketiga dari keluarganya yang menggeluti bisnis Tenun Troso itu mengaku, telah mempelajari proses ini sejak kecil dari ayahnya. Dia menjelaskan bahwa meskipun usaha tersebut sudah ada sebelumnya, tapi perkembangannya pesat sejak sekitar 2013, sebelum ia menikah.

“Awalnya, usaha ini tidak sebesar sekarang. Kami memulai dengan sedikit alat tenun dan jumlah karyawan yang terbatas,” ujar Fatkhur.

Meskipun demikian, Fatkhur mengakui bahwa penjualan belakangan ini mengalami penurunan, terutama karena persaingan yang semakin ketat dari produk-produk serupa di pasaran. Namun, ia melihat adanya peningkatan penjualan pada hari-hari besar umat Hindu, yang menggunakan kain Tenun Troso untuk keperluan upacara dan ritual mereka.

Dengan total 40 karyawan dan 20 alat tenun manual di tempat produksinya, Fatkhur terus berupaya mempertahankan kualitas dan keaslian tenun Troso dalam pasar yang semakin kompetitif.

Penulis: Zuhaira Millatina, Mahasiswa Magang Unisnu

Editor: Ahmad Rosyidi

Redaksi
Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER