BETANEWS.ID, JEPARA – Di sebuah toko yang berlokasi di Jalan Pelabuhan, atau sebelah tambal ban Pasar Ratu, Jepara, terlihat seorang perempuan sedang membungkus kerupuk. Ia tak lain adalah Zum, pemilik toko yang menjual berbagai jenis kerupuk, seperti kemplang, kerung, jengkol, tengiri, dan tayamum.
Sambil membungkus kerupuk, Zum sudi berbagi cerita kepada Betanews.id tentang usahanya itu. Wanita asli Mayong, Jepara tersebut baru berjualan sekitar tujuh bulanan. Ia mangaku, berjualan kerupuk demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, lantaran suaminya sudah meninggal dunia.
“Suami saya kan sudah meninggal, jadi sekarang saya menjadi tulang punggung keluarga. Alhamdulillah dari jualan kerupuk ini bisa untuk menyambung hidup,” terangnya saat ditemui, beberapa waktu yang lalu.
Baca juga: Rempeyek Rohsa Laris Manisnya Tak Kenal Musim, Segini Harganya
Menurutnya, masyarakat Jepara lebih suka jenis kerupuk kemplang dan kerung. Namun, di antara dua jenis tersebut kerupuk kemplang masih mendominasi penjualannya.
“Kalau saat ini yang paling laris, ya, kerupuk khas Lampung ini. Namanya kerupuk kemplang. Ada lagi kerupuk kerung, tapi tak selaris yang kemplang,” terangnya.
Ia menambahkan, bahwa kerupuk dengan bahan olahan ikan tengiri itu memang enak dan menjadi salah satu makanan favorit saat ini. Rasanya yang gurih, dengan sedikit aroma khas ikan tengiri menambah cita rasanya.
“Makanan ini memang disukai berbagai kalangan. Tentu karena rasanya dan aromanya yang khas,” Jelas Zum.
Selain rasanya yang gurih, cara pembuatan kerupuk kemplang juga terbilang unik, yaitu dengan cara dipukul-pukul hingga adonannya berbentuk pipih dan rata. Menurut Zum, hal itu agar bisa kering secara merata, sehingga ketika digoreng hasilnya pun bisa renyah menyeluruh.
Baca juga: Cuma Rp2.000, Jamu Keliling Khas Solo Ini Banyak Diminati Warga Kudus
“Kalau pembuatannya gampang-gampang susah. Yang paling penting itu di resep takaran dan adonan kerupuknya,” bebernya.
Zum juga menambahkan, makanan khas lampung ini sehari bisa menghabiskan satu bojog atau sekitar 40-50 bungkus. Ia menjual kerupuknya dengan harga Rp5.000 per bungkus.
Penulis: Ihza Miftahul Huda, Mahasiswa Magang Unisnu
Editor: Ahmad Rosyidi

