BETANEWS.ID, KUDUS – Di sekitar Menara Kudus, tampak banyak berjejer penjual, mulai dari makanan, minuman, aksesoris, hingga souvernir. Di antara penjual-penjual itu, terlihat gerobak motor yang menjual es cokelat yang ramai dikerumuni anak-anak. Lapak tersebut tak lain milik Agus Puryono (52).
Setelah selesai melayani para pembeli, pria berbaju abu-abu dengan topi hitam itu sudi berbagi cerita tentang usahanya. Ia mangaku, baru merintis usaha tersebut sekitar lima bulan lalu. Meski terbilang baru, tapi es cokelat racikannya itu langsung digemari anak-anak.
“Usaha ini baru tak rintis November lalu, karena saya kelamaan nganggur dari pemulihan operasi bibir akibat kecelakaan. Jadinya sambil nunggu panggilan kerja, saya jualan es cokelat ini dulu. Ternyata malah laku dan banyak disukai anak-anak,” ucap Agus, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Modal Rp10 Ribu Sudah Bisa Dapat Jajanan Kekinian Citul Mertua yang Lagi Hits
Agus membeberkan, resep yang ia gunakan merupakan racikannya sendiri. Untuk menemukan racikan yang pas, ia butuh beberapa kali eksperimen takaran dan bahan dengan kualitas berbeda, hingga akhirnya menemukan resep terbaik.
“Bikin resep ini aku kreasi sendiri. Dari mulai bahan cokelat tak campur dengan susu merek ini dan itu. Hingga ketemu rasa yang cocok. Jadi sekarang, ya, terus pakai bahan dengan kualitas terbaik, agar rasanya tidak berubah,” bebernya.
Setelah menemukan resep yang cocok, Agus sengaja membagikan secara gratis kepada orang-orang selama tiga hari. Setelah mencoba es cokelat racikannya, ia kemudian meminta testimoni.
“Jadi tiga hari pertama jualan semua orang tak kasih gratis. Soalnya saya mau tahu pendapat mereka, yang kurang apa dan ada masukan tidak,” tambahnya.
Berhubung Agus lebih sering berjualan di depan sekolah dasar (SD) dan madrasah, ia mengaku sempat bingung untuk menentukan harga. Pada akhirnya, dia menjual dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000 dengan tambahan topping seres.
Baca juga: Menikmati Kesegaran Dawet Mbok Mitro Tanpa Santan yang Harganya Cuma Rp7 Ribu
“Dulu rencana mau bikin yang harga Rp5.000 saja. Tapi, kan, pelanggan saya kebanyakan anak-anak, sepertinya kemahalan. Jadinya saya jual Rp2.000 untuk cup kecil, Rp3.000 cup sedang, dan Rp5.000 untuk cup besar,” jelasnya.
Agus biasanya berjualan mulai pukul 8.00 WIB dengan membawa delapan liter es cokelat, atau sekitar 60 cup. Dalam sehari, dia mampu memperoleh omzet sekitar Rp270 ribu hingga Rp300 ribu.
“Biasanya mulai pukul 8.00 WIB itu saya keliling hingga habis. Kalau di sekolah-sekolah belum habis, saya pindah ke sekitar Menara Kudus atau ke GOR,” tambahnya.
Penulis: Zuhaira Millatina, Mahasiswa Magang Unisnu
Editor: Ahmad Muhlisin

