BETANEWS.ID, KUDUS – Agung (39) tampak menuangkan adonan pada cetakan kue lumpur di outletnya yang berada di Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Mlatinorowito, Kecamatan/Kabupaten Kudus. Selang beberapa menit, ia lantas mengangkatnya dan kemudian mendinginkannya pada sebuah wadah.
Setelah dingin, kue khas Sidoarjo itu kemudian ditata pada sebuah etalase oleh istrinya, Milda. Sang istrinya lah yang kemudian melayani pembeli yang datang silih berganti. Para pembeli itu rupanya begitu penasaran dengan kue yang baru ada pertama kalinya di Kudus itu.
Baca juga: Takoyaki Murah Meriah di Yama Takoyaki Ini Harus Masuk Daftar Kulineranmu di Kudus
Di sela-sela kesibukannya, Agung bersedia berbagi cerita tentang ide berjualan Kue Lumpur Bakar Khas Sidoarjo itu. Ia mengungkapkan, outletnya itu baru berjalan sekitar satu bulan. Dulunya ia memulai usaha tersebut secara online melalui WhatsApp dan Facebook. Kemudian, dengan modal seadanya dan desakan dari pelanggan, ia memberanikan diri membuka usaha kue lumpur secara offline.
“Dulu sempat bekerja di bank selama 12 tahun, kemudian muncul ide membuka usaha sendiri. Karena, memang menyukai dunia kuliner, sehingga memutuskan berjualan kue lumpur. Kebetulan, di Kudus belum ada kue lumpur khas Sidoarjo,” ucapnya saat ditemui, Jumat (15/11/2023).
Di tempatnya, Agung menyediakan kue lumpur dengan berbagai varian isi, mulai dari orisinal, nangka, kelapa muda, kismis, hingga cokelat. Untuk harga yang orisinal Rp3.000, sedangkan yang ada isian Rp3.500.
Baca juga: Cobain Nih Takoyaki Gurita yang Enak, Lembut, dan Murah di Kudus
“Yang paling best seller adalah orisinal, nangka, dan kelapa muda,” katanya.
Menurutnya, alat untuk tempat arangnya sulit didapatkan di Kudus, sehingga ia harus membelinya langsung dari Sidoarjo. Biasanya dalam pembuatan kue lumpur setidaknya membutuhkan satu kilogram arang per satu cetakan kue lumpur. Sementara itu, satu kilogram arang bisa digunakan selama dua hingga tiga jam proses pemasakan.
Editor: Ahmad Muhlisin

