31 C
Kudus
Sabtu, Juni 22, 2024

Kemarau Panjang, Produsen Kerupuk di Kudus Hemat Biaya dan Tenaga

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pelataran rumah Desa krandon RT 3 RW 2, Kecamatan/Kabupaten Kudus tampak kerupuk sedang dikeringkan di bawah teriknya matahari. Sementara saat memasuki rumah terlihat seorang pria yang dibantu dua orang tampak menggoreng kerupuk untuk permintaan pelanggan.

Pria itu tak lain adalah Ahmad Riyadi, pemilik usaha pembuatan kerupuk. Ia menuturkan, di musim kemarau panjang seperti ini, pihaknya mengaku bisa menghemat biaya produksi dengan pengeringan kerupuk dibawah terik matahari langsung.

Baca Juga: Inilah Asal-usul Nama Teh Kota, Minuman Kekinian yang Punya Banyak Penggemar

-Advertisement-

“Kalau memang cuaca tidak panas seperti ini, harus menggunakan oven untuk mengeringkan kerupuk supaya permintaan pembeli selalu terpenuhi. Dengan panas dengan suhu tinggi ini pengeringan tidak usah menggunakan oven. Sehingga bisa menghemat produksi dan tenaga,” bebernya saat ditemui di lokasi, Senin (6/11/2023).

Meski hemat produksi dan tenaga, permintaan kerupuk di musim kemarau cenderung menurun dan sepi. Riyadi saat ini hanya mampu menjual 20-22 bos (plastik besar) setiap hari. Dibandingkan hari biasanya yang bisa menjual hingga 30 bos kerupuk setiap hari.

Ia menjelaskan, tiap harinya, bisa membuat kerupuk dengan bahan tepung tapioka sebanyak 150 kilogram. Dengan menggunakan bahan sebanyak itu, ia bisa menghasilkan 150 kilogram kerupuk juga.

“Kalau satu bos kerupuk itu dengan berat sekitar 5 kilogram. Nah jadi dalam satu hari produksi, itu ada sisa kerupuk yang belum laku. Itu kita jual saat kita tidak produksi, karena dalam sepekan hanya empat hari produksi,” ungkapnya.

“Kalau untuk harganya, satu bos kerupuk itu Rp70 ribu, dengan berat lima kilogram. Setidaknya dalam sehari kalau ditotal ya bisa menjual kerupuk sekitar 100 kilogram,” jelasnya.

Baca Juga: Keren, Buah Karya Maju Tailor Kudus Sudah Sampai Eropa

Ia menyebut, permintaan kerupuk di musim kemarau ini menurun hingga 50 persen dibandingkan hari biasanya. Riyadi mengaku, penjualan kerupuk ramai itu bisanya saat musim penghujan. Namun semakin tahun (kesini) permintaan kerupuk semakin menurun. Berbeda dengan tahun sebelum-sebelumnya yang permintaannya lebih banyak.

“Permintaan kerupuk di sini dari pedagang semua. Saat ini hanya ada 11 orang, termasuk satu dari pedagang luar kota. Kurun lima tahun terakhir permintaan semakin menurun,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER