BETANEWS.ID, DEMAK – Luas hamparan sawah di Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, tampak hijau ditumbuhi tanaman padi. Kemarau panjang yang melanda penghasil lumbung pangan terbesar di Jawa Tengah itu, nyatanya tidak mempengaruhi wilayah tersebut. Petani di wilayah itu justru dapat melakukan masa tanam padi (MT 1) tanpa khawatir pertaniannya mengalami kekeringan.
Wilayah persawahan yang dekat dengan Sungai Wulan, menyelamatkan petani Ketanjung dari dampak kekeringan. Padi bahkan bisa tumbuh subur dan telah memasuki usia dua hingga tiga minggu.
Baca Juga: PGSI Demak Desak Pemerintah Keluarkan UU Perlindungan Guru
Anggota Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Ketanjung, Sujari, mengatakan untuk mencukupi kebutuhan air sawah, para petani menggunakan pompa untuk mengambil air dari Sungai Wulan. Bermodal uang swadaya sebanyak Rp150 juta para kelompok tani membuat pompa, dapat menyelamatkan lahan pertanian warga seluas 90 hektare.
“Ini kan air pompa terus diturunkan ke sawah, biar tidak rebutan ya dibagi sama P3A, petani tinggal patuh saja,” katanya, Senin (2/9/2023).
Menurut anggota P3A Ketanjung lainnya, Sunar menerangkan jika MT 1 tidak segera dilakukan dikhawatirkan sawah akan gagal panen saat memasuki musim hujan. Sehingga jadwal pertanian diajukan serentak oleh masyarakat.
“Kalau masa tanam ini tidak diajukan bulan Agustus biasanya waktu panennya tidak cukup, terutama saat tahun 2022 kemarin,” ujarnya.
Baca Juga: Kondisi Guru Korban Pembacokan Siswa di Demak Mulai Membaik
Lancarnya air di persawahan, membuat petani Ketanjung berharap panen padi bisa lebih awal dan dapat menjual harga gabah dengan nilai jual tinggi. Sunar menyebut, sawah dengan luas 8000 meter persegi sedikitnya mampu menghasilkan gabah 6 ton.
“Kalau semuanya kurang lebih ratusan ton gabah untuk MT 1, jika dikalikan dengan luas lahan 90 hektare sawah,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

