31 C
Kudus
Minggu, Februari 22, 2026

Tambak Udang Buat Masyarakat Karimunjawa Tak Lagi Percaya Aparat dan Pemerintah

BETANEWS.ID, JEPARA – Keberadaan tambak udang di Desa Kemujan dan Karimunjawa tidak hanya merusak lingkungan alam tetapi juga menyebabkan konflik sosial dalam kehidupan masyarakat. Bahkan puncaknya kini masyarakat Karimunjawa sudah banyak yang tidak lagi percaya pada aparat pemerintah.

Abdul Salim (62), Tokoh Masyarakat Desa Kemujan bercerita bahwa kehidupan masyarakat di Karimunjawa dulu berjalan harmonis dan aman tanpa adanya konflik.

Baca Juga: Tercemar Limbah Tambak Udang, Petani Rumput Laut di Karimunjawa Rugi Miliaran Rupiah

-Advertisement-

Namun semenjak keberadaan tambak udang yang mulai memasuki Karimunjawa di tahun 2018, menurutnya perlahan kehidupan masyarakat Karimunjawa menjadi serba susah.

“Dulu emang susah, nggak ada kendaraan, nggak ada listrik, tapi kan cari makan masih mudah. Sekarang semua serba susah, air laut jadi gatal, ikan pada mati, ngelaut sekarang jauh, harus puluhan mil baru dapet ikan,” tuturnya pada Betanews.id, Minggu (24/9/2023) di Legon Nipah Rt 03/Rw 01, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.

Keberadaan aparat pemerintah di tengah konflik tambak udang yang sedang terjadi di masyarakat menurutnya juga tidak memberikan dampak apapun. Bahkan menurutnya aparat pemerintah cenderung diam dan abai terhadap persoalan yang sedang terjadi.

“Nggak ada aparat nggak masalah, dulu nggak ada aparat juga tetep aman, cuma bapak saya yang jadi Kamituwo tetep aman. Nggak ada orang bertengkar, cari makan gampang, tapi sekarang kan serba susah. Masalahnya apa, ada aparat nggak bisa ngatur, nggak bisa melindungi masyarakatnya,” tambahnya.

Susahnya kehidupan masyarakat di Karimunjawa saat ini juga turut disampaikan oleh Surokim (45) yang berprofesi sebagai nelayan dan petani tambak udang. Ia bercerita bahwa dulu masyarakat Karimunjawa bisa hidup makmur hanya dengan mengandalkan hidup dari hasil laut.

Baca Juga: Pesisir Pantai Legon Pinggir Karimunjawa Tercemar Limbah Tambak Udang

Sebab dulu, di dekat area bibir pantai masih banyak ditemui kepiting, ikan, maupun kerang yang bisa diburu oleh anak-anak kecil maupun kaum perempuan. Dalam waktu dua – empat jam, mereka mampu mendapatkan hasil laut dengan ukuran satu ember kecil.

“Dulu nyari kerang dua jam empat jam dapet satu ember itu. Kalau di kupas harganya satu kilogram Rp30 ribu, satu ember paling nggak di timbang itu tiga kilogram dapet, apa nggak seneng. Nelayan semalem nyari uang Rp600 ribu sampai Rp1 juta itu dapet, lah sekarang nggak dapet uang segitu,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER