BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah meja dan kursi tampak tertata rapi di Rumah Makan Cak’ Le, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, tepatnya di sebelah Selatan kampus Barat IAIN Kudus. Meja-meja itu sebagiannya sudah terisi para pembeli yang sedang menikmati berbagai menu di sana. Sedang seorang pria tampak berjibaku di bagian dapur untuk menyiapkan menu. Pria itu adalah Hendro Susilo (29), sang pemilik rumah makan.
Di tengah kesibukannya menyiapkan masakan, lelaki yang akrab disapa Cak Le itu sudi berbagi kisah tentang perjalanan bisnisnya. Awalnya, dia merupakan Chef yang punya pengalaman kerja di berbagai daerah. Karena tak ingin jadi karyawan terus menerus, Cak Le lantas nekad membuka bisnis kuliner sendiri.

“Awalnya membuka rumah makan ini saat pandemi, yaitu September 2021. Waktu itu sempat berhenti karena ada sedikit problem. Januari 2022 lah saya mulai bermasalah dari segi offlinenya. Kalau dari online masih ada beberapa yang order dari GrabFood,” katanya saat ditemui, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Cheese Roll yang Dijual di Getas Pejaten Harus Masuk List Jajanmu, Seenak Itu Lho
Meski awal buka hanya mendapat Rp35 ribu sehari, tapi Cak Le tetap gigih merawat bisnisnya itu. Cak Le mengatakan, dulunya ia diajari oleh bosnya, ketika membuka usaha sepi jangan langsung tutup, tapi harus cari tahu sepinya itu apakah dari segi komunikasi atau yang lain.
Berkat keuletan dan kegigihan, lambat laun tempat usahanya semakin ramai dan punya banyak pelanggan tetap. Mereka rata-rata menyukai berbagai menu yang disediakan, mulai dari ayam geprek, nasi goreng, seblak, camilan, hingga ceker setan yang harganya sangat ramah di kantong mahasiswa, yakni dari Rp5 ribu sampai Rp14 ribu.
“Menu yang paling laris di sini ayam geprek. Kalau ayam geprek kita sehari bisa habis 20 kilogram, nasi goreng kita bisa habis 9 kilogram,” jelas Hendro.
Baca juga: Pantel, Makanan Sehat yang Diburu Para Pecinta Sayur di Kudus
Untuk jam buka, RM Cak’Le ini buka setiap hari mulai dpukul 9.00-20.00 WIB. Alasan Cak Le buka setiap hari karena rumah makan itu seharusnya tidak ada libur. Apalagi, saat Hari Minggu banyak yang tutup malah banyak yang mencari makan.
Dari hasil Cak Le membuka rumah makan itu, akhirnya ia bisa membelikan orang tuanya sapi setiap bulan. Alasannya karena orang desa jadi membelinya umumnya orang desa. Tetapi sekarang lelaki itu lebih memilih menawarkan keinginan apa yang lebih dibutuhkan orang tuanya.
Penulis: Liya Ochtafiyana, Mahasiswa PPL IAIN Kudus
Editor: Ahmad Muhlisin

