BETANEWS.ID, JEPARA – Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, SMKN 2 Jepara, Eko Prasetyo mengatakan bahwa dalam satu Angkatan Jurusan Kriya Kayu dan Rotan hanya ada lima dari 72 siswa yang memiliki minat dalam bidang ukir.
Hal ini dikarenakan banyak para siswa yang sebenarnya tidak memilih Jurusan Kriya Kayu dan Rotan sebagai pilihan pertama. Mereka rata-rata masuk di Jurusan Kriya Kayu dan Rotan karena tidak diterima di Jurusan yang mereka inginkan.
Baca Juga: KPK Sebut Ongkos Politik yang Mahal Jadi Salah Satu Sebab Maraknya Korupsi
“Jadi kalau di rata-rata 50% siswa itu memang milih Jurusan Kriya Kayu dan Rotan sebagai pilihan pertama, dan 50% lainnya karena lemparan dari Jurusan lain. Dan siswa yang sudah punya basic ukir saja itu hanya 5 dari 72 siswa dalam satu Angkatan,” katanya pada Betanews.id saat ditemui di SMKN 2 Jepara, Kamis (10/8/2023).
Winda Listyawati (16), salah satu murid Jurusan Kriya Kayu dan Rotan mengatakan bahwa pada saat mendaftar sebenarnya ia ingin masuk di masuk di Jurusan Tata Busana. Tetapi karena terlempar dari Jurusan tersebut ia harus menerima untuk masuk di Jurusan Kriya Kayu dan Rotan.
“Dulu pengennya masuk tata busana, karena lihat kaka di rumah ada jadi penjahit. Tapi pas daftar Jurusan itu nggak keterima. Ya sekarang berusaha untuk menerima sih, biar nanti pas kelas tiga, waktu PPL bisa mengikuti, biar nggak ketinggalan,” ujarnya.
Akibat dari minimnya minat siswa pada Jurusan Kriya Kayu dan Rotan, Mulyono, salah satu Guru Ukir di SMKN 2 Jepara mengatakan bahwa cukup kesulitan pada saat menyampaikan materi praktik mengukir. Sehingga ia terpaksa harus memaksa para siswa agar dapat mengikuti mata pelajaran tersebut.
“Anak-anak yang minatnya tadinya nggak di kayu itu cukup kesulitan waktu mata pelajaran mengukir. Ya mau nggak mau jadinya harus kita dekati dulu siswa itu biar mereka bisa tertarik dan seneng untuk belajar ukir,” katanya.
Baca Juga: Pemkab Jepara Buka Lowongan 1.270 PPPK dari Guru hingga Nakes
Bahkan selama satu tahun pertama masa pembelajaran yang diikuti para siswa, peningkatan minat para siswa yang tadinya tidak tertarik terhadap ukir juga tidak mencapai 30%. Sehingga untuk tetap menghasilkan lulusan ukir yang berkualitas, ia mengatakan ada treatment khusus yang diberikan pada siswa yang dianggap memiliki potensi di bidang ukir.
“Biasanya kalau siswa yang ada potensi itu tugasnya kita tambah. Kalau yang lain tugasnya cuma dua, itu kita kasih tiga,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

