
Penulis: Yohanes Alan Sarsita Putra
Mahasiswa Program Magister Teknologi Pangan, Univeristas Katolik Soegijapranata
Mula-mula penggunaan plastik adalah solusi dalam penggunaan materi yang tidak dapat diperbaharui. Namun, pada tahun 1950 terjadi peningkatan dalam penggunaan plastik yang diikuti dengan jumlah sampah plastik yang terbuang di sekitar lingkungan. Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yaitu sekitar 3,22 miliar ton per tahun dan 15 persen – 40 persen sampah tersebut terbuang di laut per tahunnya.
Plastik ini dapat terdegradasi menjadi partikel yang lebih kecil melalui mekanisme foto-oksidatif yang kita sebut sebagai mikroplastik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mikroplastik berukuran 5 mm atau kurang dan ditemukan dalam rantai makanan manusia, seperti pada madu, gula, wine, susu, dan seafood.
Mikroplastik dapat menyerap, mengikat, dan mengakumulasi aditif atau bahan kimia berbahaya, yang dapat meningkatkan risiko obesitas serta menyebabkan beberapa bentuk kanker, misalnya kanker payudara
Mikroplastik juga ditemukan pula di udara yang kita hirup. Tingkat kontaminasi mikroplastik saat ini terus bertambah, tidak mengherankan bahwa kini mikroplastik sudah ditemukan bahkan pada air minum, kebutuhan vital manusia yang dikonsumsi tiap harinya.
Dilaporkan pada salah satu temuan di Jerman, rata-rata angka kontaminasi mikroplastik dalam produk AMDK sebesar 317 partikel/L dan jenis plastik yang banyak ditemui antara lain polyetilen (PE), polystyrene (PS), dan polyvinyl chloride (PVC).
Saat ini sekelompok peneliti Semarang sedang melakukan penelitian mikroplastik pada air minum dalam kemasan (AMDK) isi ulang dan bermerek yang ada di wilayah kota Semarang untuk membuktikan kontaminasi mikroplastik dan paparannya di wilayah Kota Semarang. Harapanya hasil penelitian akan menunjukan temuan yang andal dan sahih untuk mengidentifikasi cemaran mikroplastik di Semarang.
Ada potensi bahaya besar dalam peningkatan kontaminasi mikroplastik dalam air minum. Mikroplastik dapat menyerap, mengikat, dan mengakumulasi aditif atau bahan kimia berbahaya, yang dapat meningkatkan risiko obesitas serta menyebabkan beberapa bentuk kanker, misalnya kanker payudara, dan berpotensi akan penurunan jumlah sperma pada pria dan pubertas dini pada wanita. Akumulasi mikroplastik juga dapat menyebabkan perubahan bakteri usus yang mengganggu sistem kekebalan tubuh kita dan menyebabkan infeksi.
Solusi Mengatasi Kontaminasi Mikroplastik
Solusi yang efektif harus dapat datang dari komunitas global dengan kolaborasi berbagai macam pihak. Pada saat KTT Perubahan Iklim PBB ke-26 di Glasgow pada tahun 2021, mengatasi polusi plastik adalah salah satu perhatian utama pemerintah untuk mengatasi perubahan iklim.
Di sisi nasional, Indonesia melalui rencana program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, berkomitmen untuk menetapkan target untuk pengurangan sampah plastik sebesar 30 persen dan dan penanganan sampah dengan benar sebesar 70 persen dari total timbulan sampah pada tahun 2025.
Target tersebut dinyatakan secara resmi pada Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional tentang Pengelolaan Sampah. Namun ada tantangan termasuk kurangnya kesadaran, kurangnya pengelolaan limbah terpadu, tingginya biaya bahan alternatif, dan kesulitan penegakan hukum.
Jelas bahwa menghilangkan sampah plastik sangat penting dan semua orang memiliki peran. Investasi perusahaan dan swasta dalam pembentukan strategi yang lebih efektif untuk menghilangkan polusi plastik sambil mengembangkan alternatif bahan lain yang berkelanjutan dan pendekatan pengelolaan limbah yang lebih terintegrasi harus dipercepat.
Pengkajian mengenai regulasi, bisnis, akademisi, dan masyarakat harus didorong untuk mengambil langkah proaktif menuju langkah secara menyeluruh. Semua pemangku kepentingan harus menerima tanggung jawab untuk mengatasi polusi plastik secara holistik dari hulu hingga hilir.
Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan, bukti sejauh ini jelas bahwa mikroplastik berpotensi bahaya kesehatan manusia yang serius. Oleh karena itu, setiap orang berperan penting dalam membatasi polusi plastik saat ini.
Editor: Suwoko

